Pages

Tidak Gampang Membujuk Koala Kembali

Jurnal KeSimpulan.com - Koala menolak rehabilitasi. Pemulihan spesies tanaman pada lanskap terganggu seperti lokasi tambang tidak secara otomatis membawa kembali satwa liar.

"Semua orang dari perusahaan pertambangan, pemangku kebijakan, pihak berwenang dan ekolog restorasi telah bekerja untuk membangun dan mereka datang dengan segepok paradigma," kata Romane Cristescu, enviromentalis University of New South Wales.

Sebaliknya temuan Cristescu menetapkan bahwa pemulihan flora di habitat rusak tidak dapat mengembalikan populasi fauna liar.

Implikasi bagi regulasi di seluruh rehabilitasi dan kebijakan harus mencakup pengembalian fauna sebagai kriteria utama evaluasi keberhasilan.

Rekolonisasi lanskap rusak oleh fauna sangat penting untuk menjaga fungsi ekosistem dan keanekaragaman hayati.

"Fauna memainkan peran penting dalam penyerbukan dan siklus nutrisi," kata Cristescu.

Menentukan kebijakan langkah-langkah agar lebih efektif untuk keberhasilan rehabilitasi lingkungan sebagai dampak pertambangan dan kerangka kerja global untuk rehabilitasi setelah penutupan tambang menjadi penting.

International Union for Conservation of Nature Red List pada tahun 2012 melaporkan kerusakan habitat akibat pertambangan resmi menjadi ancaman langsung terhadap 225 spesies amfibi, 216 spesies reptil, 322 spesies burung dan 266 spesies mamalia.

Penelitian tidak dapat menentukan apa faktor yang mempengaruhi pengembalian koala, tapi tidak bisa untuk meremehkan pengaruh rekolonisasi suatu spesies seperti interaksi dengan spesies lain, struktur sosial dan perilaku atau kemampuan penyebaran.

"Jelas apa yang mempengaruhi koala dan kadal benar-benar berbeda", kata Cristescu.
Is restoring flora the same as restoring fauna? Lessons learned from koalas and mining rehabilitation

Romane H. Cristescu1,2, Jonathan Rhodes3, Céline Frére4, Peter B. Banks1,5
  1. School of Biological, Earth and Environmental Sciences, University of New South Wales, Kensington, NSW, Australia
  2. Sustainable Minerals Institute, Centre for Mined Land Rehabilitation, The University of Queensland, Brisbane, QLD, Australia
  3. School of Geography, Planning and Environmental Management, The University of Queensland, Brisbane, QLD, Australia
  4. Centre for Ecology and Conservation, The University of Exeter, Penryn, TR, UK
  5. School of Biological Sciences, The University of Sydney, Sydney, NSW, Australia
Journal of Applied Ecology, 12 FEB 2013

Akses : DOI:10.1111/1365-2664.12046

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment