Pages

Redating Neanderthal Punah Lebih Awal

Jurnal KeSimpulan.com - Kematian Neanderthal disarankan redating. Metode pemutakhiran radiokarbon menyarankan kisah baru berakhirnya Homo Neanderthalensis. Sebuah laporan kontroversial.

Menggunakan metode radiokarbon yang dimutakhirkan, sebuah tim redating 2 situs gua setidaknya 10.000 tahun lebih awal dari laporan sebelumnya. Ini berarti Neandertal terakhir mungkin mati jauh lebih dulu dari perkiraan selama ini.

Implikasinya, antropolog perlu memikirkan kembali bagaimana dan mengapa hominid menghilang.

Para peneliti lama berdebat apakah iklim keras Zaman Es, ekspansi Homo sapiens dari Afrika atau faktor lain yang mendorong terhapusnya Neanderthal.

Selama beberapa dekade terakhir arkeolog mematok Semenanjung Iberia sebagai salah satu tempat perlindungan terakhir Neanderthal.

Hipotesis populer bahwa sepupu tua manusia modern di sebagian besar Eropa tampaknya punah pada sekitar waktu yang sama ketika kedatangan Homo sapiens di benua tersebut setidaknya 42.000 tahun lalu.

"Orang-orang menyarankan di selatan Iberia Neanderthal bertahan 5 atau 10 ribu tahun melebihi tempat lain di Eropa dan kita tidak memiliki manusia modern di daerah itu," kata Rachel Wood, geolog radiokarbon Australian National University di Canberra.

Tetapi iklim kondusif di selatan Spanyol dan Gibraltar mungkin membantu Neanderthal bertahan 10.000 tahun atau lebih. Sebuah kronologi tepat sangat penting untuk memahami faktor yang berperan memusnahkan Neanderthal dan sejauhmana berinteraksi dengan H. sapiens.

Mayoritas dating Neanderthal termuda berasal dari radiokarbon. Metode dating materi organik menggunakan level paling stabil saat ini dimana salah satu form karbon berubah menjadi form lain setelah kematian sebuah organisme.

Tapi tulang, arang dan sampel lainnya jadi lebih muda dibanding sebenarnya dari waktu ke waktu jika terkontaminasi organik baru. Dalam beberapa tahun terakhir para peneliti mengembangkan metode ultrafiltrasi untuk menghilangkan galat tersebut.

Wood dan rekan menggunakan ultrafiltrasi terbaru dengan radiokarbon untuk redating umur beberapa situs Neanderthal termuda. Tim juga mengumpulkan 215 tulang hewan dari 11 lokasi di beberapa titik di Semenanjung Iberia.

"Laporan ini sangat baik," kata Olaf Joris, arkeolog Romano-Germanic Central Museum di Mainz, Jerman.

Temuan Wood mendukung review Joris sebelumnya yang menyimpulkan Neanderthal terakhir mungkin hidup sebelum 42.000 tahun lalu. Standar menunjukkan hominid terakhir ini menduduki Eropa terakhir sekitar 28.000 tahun lebih awal. Tapi arkeolog lain skeptis.

"Sulit untuk memilih 2 tempat di Iberia dan mengatakan terjadi juga di mana-mana," kata Clive Finlayson, arkeolog Gibraltar Museum.

Dua situs analisis Wood di lokasi tinggi dan tidak ramah di Eropa ketika ditikam Zaman Es. Sedangkan kolagen tulang tidak lestari dengan baik di situs hangat di mana Neanderthal terakhir hidup. Metode dating anorganik diperlukan untuk kepastian lebih dari faktor lain.

"Kita tidak boleh terlalu terbawa oleh hasil dating radiokarbon hanya dari dua lokasi," kata Paul Pettitt, arkeolog Durham University di Inggris.

João Zilhão, antropolog University of Barcelona, mengatakan Wood tidak benar-benar redating gua di Jarama VI di mana Neanderthal paling baru-baru tinggal. Akibatnya tidak dapat menunjukkan kapan para penghuni terakhir tinggal di sana.

"Zafarraya adalah situs buruk dan campuran. Dua tulang satu sama lain mungkin berusia sangat berbeda, sulit menggunakan usia satu tulang sebagai proxy untuk usia tulang lain," kata Zilhão.
Radiocarbon dating casts doubt on the late chronology of the Middle to Upper Palaeolithic transition in southern Iberia

Rachel E. Wood1,2 et.al
  1. Research School of Earth Sciences, Australian National University, Canberra, 0200, Australia;
  2. Research Laboratory for Archaeology and the History of Art, University of Oxford, Oxford OX1 3QY, United Kingdom
Proceedings of the National Academy fo Sciences (PNAS), February 4, 2013

Akses : DOI:10.1073/pnas.1207656110

Symbolic use of marine shells and mineral pigments by Iberian Neandertals

João Zilhão1 et.al.
  1. University of Bristol, Department of Archaeology and Anthropology, Bristol BS8 1UU, United Kingdom
Proceedings of the National Academy fo Sciences (PNAS), January 11, 2010

Akses : DOI:10.1073/pnas.0914088107

Gambar: C. Barroso-Ruíz

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment