Pages

Paradoks Peto Dinamika Teoritis Kanker

Jurnal KeSimpulan.com - Hewan besar menyimpan rahasia melawan kanker. Teori menunjukkan trade-off antara risiko kanker dan potensi reproduksi.

Jika setiap sel hidup memiliki kesempatan yang sama menjadi kanker, ikan paus dan gajah harus memiliki risiko lebih besar terkena kanker dibanding manusia atau tikus. Tapi di seluruh spesies, kanker tidak menunjukkan korelasi dengan massa tubuh.

Paradoks Peto dapat dijelaskan jika hewan yang memiliki keseimbangan antara mengurangi risiko kanker seperti memaksimalkan jumlah keturunan.

Kurangnya korelasi antara massa tubuh dan risiko kanker menjadi paradoks setelah laporan Richard Peto, epidemiolog Oxford University, pada tahun 1970-an.

Bioevolusionis berpikir hewan yang lebih besar dengan menggunakan mekanisme pelindung yang tidak dilakukan hewan yang lebih kecil.

Untuk mengidentifikasi massa tubuh yang mungkin mendorong mekanisme seperti itu, Benjamin Roche, bioevolusionis Research for Development di Montpellier, Prancis, dan rekan menciptakan model teoritis mutasi genetik lebih dari 4.000 generasi.

Model ini termasuk jenis 2 gen yaitu proto-onkogen yang menyebabkan sel-sel normal menjadi sel kanker dan gen supresor tumor yang memperbaiki kerusakan sel lain penyebab sel-sel kanker.

"Tumour-suppressor genes dan proto-oncogenes bereaksi secara berbeda sepanjang gradien massa tubuh. Dinamika evolusi terkait di sini. Proto-onkogen dengan massa tubuh meningkat," kata Roche.

Dalam model, evolusi tidak selalu mendukung gen supresor tumor. Mekanisme ini dapat mengurangi angka kematian kanker pada hewan apapun, tapi mungkin datang dengan biaya yaitu kesuburan berkurang.

"Pada titik ini banyak kematian akibat kanker daripada investasi dalam mekanisme yang lebih mahal untuk menghindari perkembangan kanker," kata Roche.

Biaya evolusi lebih besar pada hewan berukuran menengah jika memiliki gen supresor tumor dibanding manfaat yang diperoleh untuk melawan sel kanker. Tapi peneliti lain skeptis karena bukanlah satu-satunya penjelasan yang untuk paradoks Peto.

"Ada beberapa hipotesis yang berbeda," kata Carlo Maley, direktur Center for Evolution and Cancer di University of California San Francisco.

Maley dan rekan sekuensing genom Paus Humpback dan berencana membandingkan dengan manusia termasuk genom gajah untuk menguji hipotesis serta apakah alam sudah datang dengan mekanisme pencegahan kanker yang siap diterjemahkan ke klinik.

Di sisi lain beberapa biolog mempertanyakan apakah semua tercakup dalam paradoks sama sekali. Variasi tingkat kanker di seluruh spesies yang berkisar antara 20% hingga 46% lebih mirip atau memang berbeda.

"Semua spesies terkena kanker pada tingkat yang sama, biasanya di bagian akhir masa hidup. Kita tidak memiliki data yang mendukung hipotesis hewan lebih besar datang lebih komplit," kata James DeGregori, biolog molekuler University of Colorado di Denver.
Peto's paradox revisited: theoretical evolutionary dynamics of cancer in wild populations

Benjamin Roche1,2, Kathleen Sprouffske3, Hassan Hbid1,4, Dorothée Missé2,5, Frédéric Thomas2,5
  1. IRD, UMMISCO (UMI IRD/UPMC), Bondy, France
  2. CREEC, Université Montpellier 2, Montpellier, France
  3. Institute of Evolutionary Biology and Environmental Studies, University of Zurich, Zurich, Switzerland
  4. Laboratoire de Mathématiques et Dynamique de Populations, Cadi Ayyad University, Marrakech, Morocco
  5. IRD, MIVEGEC (UMR CNRS/IRD/UM1), Montpellier, France
Evolutionary Applications, Volume 6, Issue 1, pages 109-116, January 2013

Akses : DOI:10.1111/eva.12025

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment