Pages

Sinkrotron Tangkap Hantu Paleo di Fosil

Jurnal KeSimpulan.com - Bahkan bagi sedikit makhluk beruntung yang diawetkan dalam catatan fosil, jaringan lunak seperti kulit dan bulu menghilang dari waktu ke waktu.

Reptil yang digali tahun 1980 di Formasi Green River, Amerika Serikat bagian barat, mendapatkan kembali kulitnya. Sebuah batu berlapis lumpur halus yang indah, meskipun jaringan lunak sangat langka dalam catatan fosil, kadal diselamatkan lingkungan.

Sangat mudah untuk melihat sisa-sisa sisik individu dalam kulit meskpun batu tidak menampakkan seperti tulang atau jaringan keras lainnya.

Tapi teknik baru membangkitkan bangkai berkulit pada fosil kadal berdating 50 juta tahun.

Sebuah kombinasi yang menawarkan jendela kepada para peneliti bahwa kulit ditumpahkan oleh makhluk hidup dan kemudian diawetkan.

"Wilayah yang belum dipetakan. Teknik ini mengungkap bahwa fosil lebih harfiah dari penglihatan mata," kata Gregory Erickson, paleontolog vertebrata Florida State University di Tallahassee.

Phillip Manning, paleontolog vertebrata University of Manchester di Inggris, dan rekan menggunakan teknik baru x-ray sinkrotron. Unsur-unsur berpendar mengungkap sisa-sisa kimia yang tak terlihat mata telanjang tetapi bertahan di batuan dengan konsentrasi sangat rendah.

Ketika fosil diterangi x-ray yang menyebabkan sulfur dan tembaga berpendar, sisa-sisa kulit muncul dalam detail luar biasa. Dan ketika menyalakan fosil dengan x-ray yang menyebabkan fosfor bersinar, muncul bintik-bintik kecil di kepala kadal di mana unsur terkonsentrasi.

Penelitian sebelumnya menggunakan teknik ini untuk mengungkap residu kimia pigmen bulu yang memberi wawasan pola warna burung kuno. Teknik juga menawarkan kesempatan untuk melihat sisa jaringan lunak seperti pigmen retina mata, kantung tinta cumi-cumi dan jaringan otot.

"Teknik ini meminta paleontolog untuk meninjau kembali banyak fosil klasik. Siapa yang tahu untuk mendapat pertanyaan 150 tahun paleontologi?" kata Erickson.
Mapping prehistoric ghosts in the synchrotron

N. P. Edwards1,2, R. A. Wogelius1,2, U. Bergmann3, P. Larson5, W. I. Sellers4 and P. L. Manning1,2,6
  1. School of Earth, Atmospheric, and Environmental Sciences, University of Manchester, Manchester, M13 9PL, UK
  2. Williamson Research Centre for Molecular Environmental Science, University of Manchester, Manchester, M13 9PL, UK
  3. Linac Coherent Light Source, SLAC National Accelerator Laboratory, Menlo Park, CA 94025, USA
  4. Faculty of Life Sciences, University of Manchester, Manchester, M13 9PL, UK
  5. Black Hills Institute of Geological Research, Inc., Hill City, SD 57745, USA
  6. Department of Earth and Environmental Science, University of Pennsylvania, Philadelphia, PA 19104, USA
Applied Physics A, December 2012

Akses : DOI:10.1007/s00339-012-7484-3

Gambar : N. P. Edwards et.al., Applied Physics A, DOI:10.1007/s00339-012-7484-3

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment