Pages

Moncong Buaya Adaptasi Besarnya Mangsa

Jurnal KeSimpulan.com - Panjang dagu buaya memberi gambaran diet. Panjang dagu buaya dapat untuk memprediksi apakah suka mangsa besar seperti babi dan kerbau ataukah ikan kecil.

Para ilmuwan telah lama tahu buaya yang memakan mangsa kecil seperti ikan cenderung memiliki moncong sangat panjang, sementara mereka yang memakan mangsa besar cenderung memiliki moncong pendek. Simfisis mandibula sebagai indikator semuanya.

Mahkluk satu ini memang sangat berantakan dengan adegan brutal ketika memangsa. Kali ini tentang moncong buaya.

Gharial India memiliki dagu lebih dari 50 persen panjang rahang. Tapi buaya air asin memiliki dagu yang sangat cepak.

"Ada sesuatu tentang panjang simfisis yang berkorelasi dengan panjang rahang," kata Colin McHenry, fisikawan Monash University.

Ada penjelasan biomekanis untuk ini mengingat buaya dihadapkan dengan mangsa terlalu besar ketika harus menelan.

"Jika buaya menangkap babi cukup diguncang-guncang udara seperti anjing mencabik kelinci hingga berantakan," kata McHenry.

"Jika buaya dihadapkan beberapa mangsa yang sangat besar seperti kerbau, mereka harus memutar ke dalam gulungan kematian yang terkenal dilakukannya," kata McHenry.

Tidak ada aturan. McHenry dan rekan menggunakan prinsip-prinsip teknik pertama untuk alasan panjang rahang harus mempengaruhi kekuatan rahangnya ketika hewan bergetar dan menelan makanan.

"Dalam rangka untuk dapat menahan beban terkait dengan getaran dan memutar, kami memprediksi buaya harus memiliki simfisis pendek," kata McHenry.

Dagu panjang seharusnya tidak mempengaruhi kekuatan rahang saat buaya hanya menggigit mangsa. CT scan tengkorak 7 spesies buaya memiliki 10 persen hingga 50 persen panjang total rahang. Resolusi tinggi 3D tengkorak mensimulasikan tegangan tulang ketika berbagai jenis beban diterapkan.

"Semakin rendah tekanan, semakin kuat rahang. Struktur sebenarnya memprediksi prinsip-prinsip rekayasa dan jauh lebih kompleks daripada bentuk yang pernah dianalisis insinyur," kata McHenry.

Mengapa buaya pemakan ikan cenderung memiliki dagu tipis panjang? Tetap menjadi misteri. Tetapi uji hipotesis dapat menggunakan dinamika fluida komputasi untuk menghitung hambatan yang disebabkan oleh rahang berbentuk berbeda sebagai aliran fluida.
Why the Long Face? The Mechanics of Mandibular Symphysis Proportions in Crocodiles

Christopher W. Walmsley1,2
  1. School of Engineering, University of Newcastle, Newcastle, New South Wales, Australia
  2. Department of Anatomy and Developmental Biology, School of Biomedical Sciences, Monash University, Melbourne, Victoria, Australia
PLoS ONE, 8(1): e53873, January 16, 2013

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0053873

Gambar: C.W. Walmsley et.al., PLoS ONE, DOI:10.1371/journal.pone.0053873

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment