Pages

Bakteri Hidup Tinggi di Awan Badai

Jurnal KeSimpulan.com - Bakteri menunggang angin. Bakteri mencapai mil atmosfer, memperkuat hipotesis mikroba dapat mempengaruhi curah hujan dan pembentukan awan.

Sebuah laporan menemukan mikroba terbang naik badai dan hidup di awan berteman petir. Di ketinggian 10 kilometer, sejumlah besar mikroba berkembang, kemungkinan mempengaruhi kimia awan dan memainkan peran terhadap kondisi atmosfer.

"Ini laporan paling menarik tahun ini," kata Jessica Green, ekolog University of Oregon.

"Kontribusi signifikan terhadap hipotesis mikroba sebagai metabolik aktif di atmosfer yang merubah pemahaman tentang proses global," kata Green.

Laporan sebelumnya pada salju dan air hujan yang dikumpulkan di ketinggian menyimpan bakteri ketika kondensasi uap air yang mengarah ke presipitasi.

Beberapa mikroba mensekresikan protein khusus yang memungkinkan mereka memulai kristalisasi es sehingga dapat mempengaruhi cuaca dengan merubah suhu di mana kristal es terbentuk di langit.

Tapi kebanyakan mikroba dari Bumi bercurah hujan tinggi dan mewakili komunitas bakteri yang berbeda di atmosfer, mungkin memiliki sifat berbeda untuk nukleasi es dan pembentukan awan seperti yang ditemukan dalam air hujan.

Terry Lathem, klimatolog Georgia Institute of Technology di Atlanta, dan tim terbang menembus badai untuk mengambil sampel bakteri. Pesawat tua DC-8 dimodifikasi sebagai laboratorium terbang. Bersama para ilmuwan NASA dengan eksperimen GRIP.

"Penerbangan paling mendebarkan dalam hidup saya. Setiap jam adrenalin melawan badai petir melintas di kejauhan dan hujan deras memukul jendela," kata Lathem.

Menggunakan sequencing DNA, tim mengidentifikasi berbagai bakteri. Komposisi bakteri dalam awan berbeda sebelum dan setelah badai yang menunjukkan badai melecut bakteri dari permukaan Bumi. Beberapa spesies dikenal sebagai nucleator es.

Secara teoritis, masyarakat bakteri nukleasi es dapat mempengaruhi jumlah massa dan ukuran kristal es ketika terbentuk di atmosfer yang kemungkinan berdampak terhadap masa awan dan bahkan iklim global secara keseluruhan.

"Jika bakteri dapat mengurangi jumlah awan tinggi, memungkinkan lebih banyak panas pergi ke angkasa dan mendinginkan Bumi," kata Athanasios Nenes, klimatolog Georgia Institute of Technology.

Tapi efek ambigu pada suhu Bumi. Awan bisa membuat dingin planet dengan menghalangi radiasi Matahari atau dapat memiliki efek rumah kaca dengan mencegah panas Bumi ke angkasa. Tidak sepenuhnya jelas apakah bakteri mempromosikan pemanasan atau pendinginan.

"Salah satu tantangan berikutnya adalah mengetahui peran organisme ini," kata Konstantinos Konstantinidis, mikrobiolog Georgia Institute of Technology.

Microbiome of the upper troposphere: Species composition and prevalence, effects of tropical storms, and atmospheric implications

Natasha DeLeon-Rodriguez1, Terry L. Lathem2, Luis M. Rodriguez-R1, James M. Barazesh3, Bruce E. Anderson4, Andreas J. Beyersdorf4, Luke D. Ziemba4, Michael Bergin2,3, Athanasios Nenes2,5, and Konstantinos T. Konstantinidis1,2
  1. School of Biology,
  2. School of Earth and Atmospheric Sciences,
  3. School of Civil and Environmental Engineering,
  4. School of Chemical and Biomolecular Engineering, Georgia Institute of Technology, Atlanta, GA 30332; and
  5. Chemistry and Dynamics Branch/Science Directorate, National Aeronautics and Space Administration Langley Research Center, Hampton, VA 23681
Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)

Akses : DOI:10.1073/pnas.1212089110

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment