Pages

Parasit Toxoplasma gondii Membajak Otak

Jurnal KeSimpulan.com - Parasit membuat tikus tidak takut dengan membajak sel-sel kekebalan tubuh. Parasit Toxoplasma gondii operator licik ketika membajak tubuh host.

Tom and Jerry mungkin ditakdirkan untuk terus hidup bersama, tapi parasit Toxoplasma gondii yang berkuasa. Ketika menginfeksi tikus, parasit mengubah perilaku jadi pemberani di depan kucing. Tapi bagaimana mekanisme secara persis masih misteri.

Sekarang tampak parasit membajak sistem kekebalan tubuh korban dengan membuat zat kimia yang biasanya ditemukan di otak.

Sistem kekebalan tubuh dan otak mungkin berevolusi menggunakan proses yang sama untuk mengontrol perilaku termasuk sinyal listrik dan kimia saraf.

T. gondii menghabiskan hidup dalam usus kucing, kemudian menyebar melalui kotoran ke tikus dan menyerang otak yang membuat tidak takut kucing. Setelah dimangsa, parasit kembali ke usus kucing dan menyelesaikan siklus hidupnya.

Parasit dapat menyebar ke manusia. Infeksi akut mengancam janin dan wanita hamil diminta menghindari kontak kotoran kucing. Seperempat penduduk dunia terinfeksi toksoplasma seumur hidup dan mungkin membawa efek psikologis termasuk perilaku kenekatan.

Antonio Barragan, mikrobiolog Karolinska Institutet di Stockholm, dan rekan menemukan kemampuan parasit membajak sistem kekebalan tubuh. Toksoplasma ditelan sel-sel darah putih yang disebut dendritic cells (DCs), sebuah proses yang membantu sel-sel kekebalan belajar untuk mengenali.

Tapi justru Toxoplasma membajak DC. Tidak hanya hidup dan berkembang biak, parasit di DC jadi lebih hypermobile, merangkak lebih aktif melalui berbagai jaringan dan bermigrasi lebih cepat ke seluruh bagian tubuh.

"DC adalah kendaraan yang mengangkut parasit ke seluruh tubuh," kata Barragan.

Parasit menyalakan satu set gen dalam DC untuk memproduksi dan mengeluarkan zat kimia GABA. Kejutan dimana GABA adalah neurotransmitter yang membawa sinyal dari satu sel saraf yang lain. DC seperti beberapa sel non-saraf lainnya membawa reseptor untuk GABA.

Menariknya sebagai neurotransmitter di otak, GABA mengurangi ketakutan dan kecemasan. Otak yang diserang oleh parasit dalam DC mengaduk-aduk GABA menjadi tidak punya rasa takut. Atau parasit mungkin menyerang sel-sel otak dan juga mengaktifkan gen GABA.

"Sulit untuk mengatakan siapa yang datang pertama," kata Barragan.
GABAergic Signaling Is Linked to a Hypermigratory Phenotype in Dendritic Cells Infected by Toxoplasma gondii

Jonas M. Fuks1,2, Romanico B. G. Arrighi1,2, Jessica M. Weidner1,2, Suresh Kumar Mendu3, Zhe Jin3, Robert P. A. Wallin1,4, Bence Rethi4, Bryndis Birnir3, Antonio Barragan1,2
  1. Center for Infectious Medicine, Department of Medicine, Karolinska Institutet, Karolinska University Hospital Huddinge, Stockholm, Sweden
  2. Swedish Institute for Communicable Disease Control, Stockholm, Sweden
  3. Department of Neuroscience, Uppsala University, Uppsala, Sweden
  4. Department of Microbiology, Tumor and Cell Biology, Karolinska Institutet, Karolinska University Hospital Huddinge, Stockholm, Sweden
PLoS Pathogens 8(12): e1003051, December 6, 2012

Akses : DOI:10.1371/journal.ppat.1003051

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment