Pages

Kepalan Tinju dan Evolusi Fitur Tangan

Jurnal KeSimpulan.com - Tangan manusia berevolusi sebagian sebagai alat untuk berkelahi. Gemuruh kehidupan kuno yang keras mungkin meninggalkan tanda abadi kepalan tangan manusia.

Petinju Juan Manuel Marquez menjatuhkan Manny Pacquiao dengan pukulan telak dan mematikan. Proporsi tangan yang mengepalkan jari-jari menciptakan gada yang efektif. Mungkin evolusi memainkan peran membentuk tangan seperti senjata untuk menghukum.

Lanskep savana Afrika memaksa leluhur awal turun dari kanopi pohon dan tangan lebih bebas. Tetapi para peneliti lainnya skeptis.

"Tidak ada bukti meyakinkan bahwa tangan berevolusi dengan cara tersebut," kata Mary Marzke, antropolog Arizona State University di Tempe.

Lebih mungkin kemampuan memukul sebagai konsekuensi sampingan evolusi tangan lincah yang cocok untuk membuat dan menggunakan alat.

Manusia memiliki jari berbentuk palem dan ibu jari lebih pendek tapi kuat dibanding primata lainnya. Fitur memberi tangan manusia ketangkasan yang tak tertandingi dan antropolog setuju karakteristik ini berevolusi ketika leluhur awal manusia mulai membuat alat batu.

Tapi David Carrier, biomekanikawan komparatif University of Utah, mengatakan agresi juga membentuk tangan. Di banyak spesies hominid awal, laki-laki jauh lebih besar dari perempuan. Pada primata hidup, kesenjangan ukuran tubuh sering dikaitkan dengan banyaknya pertempuran.

Sementara sebagian besar kera menggunakan senjata gigitan, mencakar atau menggaruk lawan mereka. Hominid awal mungkin beralih ke perkelahian karena menghabiskan lebih banyak waktu di tanah dan tangan menjadi lebih bebas dari pada memanjat.

"Jelas tangan berevolusi untuk ketangkasan manual. Tapi kepalan tinju melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk menjelaskan proporsi yang kita miliki," kata Carrier.

Meskipun toolmaking tak diragukan lagi mempengaruhi evolusi tangan, ada banyak cara di mana tangan menjadi lincah. Jari-jari panjang sementara ibu jari lebih besar dan telapak berubah. Tapi hanya satu konfigurasi tangan memungkinkan membentuk kepalan.

"Perlu lebih banyak bukti untuk membuat argumen menarik," kata Erin Marie Williams, bioanatomis fungsional George Washington University di Washington, DC.

Perlu mengukur bagaimana kera benar-benar memukul. Tidak jelas bagaimana hominid awal bernasib seperti dalam pertandingan tinju. Australopithecus afarensis lebih dari 3 juta tahun lalu belum definitif terkait penggunaan alat-alat batu.

Lengkung jari spesies yang memungkinkan individu membentuk tinju yang kuat tetap menjadi pertanyaan terbuka. Sulit untuk dipahami mengapa setelah membuat alat-alat yang penting kemudian hominid membahayakan kehidupan untuk berkelahi.

"Hal terakhir yang Anda lakukan adalah mengekspos tangan dan menggigit jari. Anda kehilangan kapasitas toolmaking," kata Randall Susman, morfolog fungsional Stony Brook University di New York.

Cara lain untuk menguji hipotesis perkelahian adalah mencari bukti terkait meninju dalam catatan fosil. Sulit untuk menemukan sampel besar tulang tangan, tapi mungkin Neanderthal cukup untuk melihat apakah hominid saling mengalahkan dengan tinju mereka.
Protective buttressing of the human fist and the evolution of hominin hands

Michael H. Morgan1 and David R. Carrier2
  1. The University of Utah School of Medicine, 30 N. 1900 E., Salt Lake City, UT 84132, USA
  2. Department of Biology, University of Utah, 257 S. 1400 E., Salt Lake City, UT 84112, USA
Journal of Experimental Biology 216, 236-244, January 15, 2013

Akses : DOI:10.1242/jeb.075713

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment