Pages

Hidung Merah Rusa Santa Rangifer tarandus

Jurnal KeSimpulan.com - Anak-anak menyukai Santa Claus yang mengendarai kereta terbang ditarik rusa-rusa dengan jejak taburan bintang untuk menyampaikan kue coklat natal.

Tentu saja cerita berakar pada mitos. Tapi ada kebenaran yang lebih dari dugaan. Sebuah fraksi spesies rusa Rangifer tarandus yang hidup di wilayah Arktik Alaska, Kanada, Greenland, Rusia dan Skandinavia memiliki hidung berwarna merah khas.

Sekarang tepat pada waktunya untuk Natal. Tim Belanda dan Norwegia menemukan alasan warna merah untuk pertama kalinya.

Warna adalah array yang sangat padat pembuluh darah, dikemas menuju hidung untuk memasok darah dan mengatur suhu tubuh di lingkungan ekstrim.

"Kami menyoroti sifat fisiologis intrinsik hidung merah Rudolph legendaris," kata Can Ince, biolog Erasmus University Rotterdam, dan rekan.

"Membantu untuk melindunginya dari pembekuan selama perjalanan dan untuk mengatur suhu otak, faktor penting ketika rusa terbang menarik kereta Santa Claus di bawah suhu ekstrim," kata Ince.

Jelas Ince et.al. mengetahui bahwa rusa tidak benar-benar menarik kereta Santa Claus untuk memberi hadiah ke seluruh dunia, tapi tim menemukan variasi luas kondisi cuaca tahunan mengapa perlu pembuluh kapiler untuk memberikan banyak darah.

Mengeledah 2 hidung rusa dan 5 relawan manusia dengan mikroskop video memungkinkan melihat pembuluh individu dan aliran darah secara real time. Ince menemukan rusa memiliki konsentrasi 25% lebih tinggi pembuluh darah di hidung.

Pencitraan inframerah mengukur bagian tubuh ketika melepas panas. Hidung bersama dengan kaki belakang mencapai suhu 75oF, relatif panas bagi rusa, salah satu fungsi utama bahwa aliran darah membantu mengatur suhu tetap hangat.
Why Rudolph’s nose is red: observational study

Can Ince1, Anne-Marije van Kuijen2, Dan M J Milstein3, Koray Yürük3, Lars P Folkow4, Wytske J Fokkens2, Arnoldus S Blix4
  1. Department of Intensive Care Medicine, Erasmus Medical Center, Erasmus University Rotterdam, ‘s-Gravendijkwal 230, PO Box 2040, 3000 CA Rotterdam, Netherlands
  2. Department of Otorhinolaryngology, Academic Medical Center, University of Amsterdam, Netherlands
  3. Department of Translational Physiology, Academic Medical Center, University of Amsterdam
  4. Department of Arctic and Marine Biology, University of Tromsø, Norway
British Medical Journal 2012;345:e8311 (17 December 2012)

Akses : DOI:10.1136/bmj.e8311
Gambar : Can Ince et.al., BMJ, DOI:10.1136/bmj.e8311

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment