Pages

Virus Mirip Ebola Pada Orangutan Kalimantan

Jurnal KeSimpulan.com - Orangutan terinfeksi virus misterius mirip Ebola. Kera besar yang paling terancam punah menghadapi ancaman tambahan yaitu virus misterius.

Orangutan Kalimantan memiliki antibodi yang mampu mengenali tidak hanya spesies virus Ebola Asia, tapi juga semua dari 4 Ebola Afrika dan virus Afrika serupa disebut Marburg. Tak satu pun virus Afrika pernah terlihat di luar Afrika sebelumnya.

Tapi pekan lalu Chairul Anwar Nidom, virulog Universitas Airlangga di Surabaya, memaparkan konferensi untuk The Jakarta Post tentang temuan baru.

Orangutan adalah kera besar hanya di Asia. Sedangkan simpanse, bonobo dan gorila berasal dari Afrika.

Karena pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, hari ini hanya 40.000 orangutan yang bertahan hidup di alam liar di pulau Sumatera dan Kalimantan.

Sebagai bagian survei mamalia liar untuk flu burung H5N1 yang endemik unggas Indonesia, tim Nidom mengumpulkan darah 353 orangutan tampak sehat di Kalimantan timur dan tengah. Sampel antibodi diuji terhadap flu dan infeksi lain untuk memeriksa riwayat penyakit.

Sebanyak 65 orangutan dari kedua lokasi membawa antibodi yang terikat pada protein salah satu spesies Ebola Afrika dan/atau Marburg. Sebanyak 5 lainnya membawa antibodi spesies Ebola Asia disebut Reston yang telah ditemukan pada monyet dan babi di Filipina.

Ebola membunuh simpanse Afrika dan gorila dataran rendah serta bisa menimbulkan ancaman serius bagi kedua spesies. Namun, orangutan telah terbukti selamat. Nidom mencatat filoviruses seperti Ebola dapat mematikan dalam beberapa spesies tetapi tidak pada yang lain.

Ebola Reston membunuh kera cynomolgus tetapi tidak kera rhesus atau manusia. Virus Afrika mungkin memiliki variabel yang sama. Atau mungkin orangutan yang tertangkap tidak cukup memiliki Ebola Afrika.
Serological Evidence of Ebola Virus Infection in Indonesian Orangutans

Chairul A. Nidom1,2,3, Eri Nakayama4, Reviany V. Nidom1,3, Mohamad Y. Alamudi1,3, Syafril Daulay5, Indi N. L. P. Dharmayanti6, Yoes P. Dachlan7, Mohamad Amin3, Manabu Igarashi8, Hiroko Miyamoto4, Reiko Yoshida4, Ayato Takada4
  1. Avian Influenza-zoonosis Research Center, Airlangga University, Surabaya, Indonesia
  2. Faculty of Veterinary Medicine, Airlangga University, Surabaya, Indonesia
  3. Institute of Tropical Disease, Airlangga University, Surabaya, Indonesia
  4. Division of Global Epidemiology, Hokkaido University Research Center for Zoonosis Control, Sapporo, Japan
  5. Center for Diagnostic Standard of Agriculture Quarantine, Ministry of Agriculture, Jakarta, Indonesia
  6. Indonesian Research Center for Veterinary Science, Ministry of Agriculture, Bogor, Indonesia
  7. Tropical Disease Hospital, Airlangga University, Surabaya, Indonesia
  8. Division of Bioinformatics, Hokkaido University Research Center for Zoonosis Control, Sapporo, Japan
PLoS ONE 7(7): e40740

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0040740

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment