Pages

Microcachrys tetragona Relik Gondwanan

Jurnal KeSimpulan.com - Menemukan kembali relik Gondwanan yang hilang. Fosil sisa-sisa relatif kuno Benua Gondwana merangkai jejak salah satu 'fosil hidup' Australia.

Semak Microcachrys tetragona yang hari ini hanya tumbuh di pegunungan Tasmania sebagai 'fosil hidup' bagian dari garis keturunan purba kembali ke masa kejayaan dinosaurus. Garis keturunan pernah tersebar luas di seluruh belahan Bumi selatan.

"Kita punya beberapa materi 20 juta tahun dan itu di Selandia Baru," kata Ray Carpenter, paleobiolog University of Adelaide.

Microcachrys sering ditemukan merayap di antara batu-batu dan perwakilan terakhir silsilah leluhur yang sama.

Mereka adalah anggota keluarga Podocarpacae dalam kelompok yang sama dengan Pinus Huon.

Fosil hidup Gondwana lain adalah Pinus Wollemi, anggota keluarga Araucariaceae, milik Pinus Norfolk.

Pollen tanaman microcachrys tersebar luas di seluruh belahan Bumi selatan. Microcachrys berserbuk sari kecil dan bulat dengan 3 sayap mewah yang membuat terbang ketika dihembus angin.

Serbuk sari tersimpan dalam sedimen Tasmania dan Patagonia ke selatan Afrika dan Antartika berdating 150 juta tahun lalu. Tapi sampai kita tidak ada daun kerucut microcachrys ditemukan dalam catatan fosil. Susunan persegi daun yang unik.

Carpenter menggali daun microcachrys dalam lapisan mineral batubara di sebuah tambang di selatan Selandia Baru. Fosil mikroskopis kutikula lilin daun memiliki ciri khas microcachrys..

"Kami yakin mereka microcachrys," kata Carpenter.

Dating 20 juta tahun menjadi fosil tertua microcachrys dan pertama ditemukan di luar Australia. Tasmania adalah rumah sejumlah harta Gondwana termasuk konifer dan tanaman berbunga. Tempat yang baik melestarikan garis keturunan Gondwanan.

"Ada banyak lanskap dan variasi iklim mikro dalam basis kecil di Tasmania yang memberi kesempatan tanaman mengubah distribusi dan beradaptasi dengan perubahan iklim," kata Carpenter.
Leaf fossils of the ancient Tasmanian relict Microcachrys (Podocarpaceae) from New Zealand

Raymond J. Carpenter2,6, Gregory J. Jordan3, Dallas C. Mildenhall4 and Daphne E. Lee5
  1. School of Earth and Environmental Sciences, University of Adelaide, SA 5005, Australia
  2. School of Plant Science, University of Tasmania, Private Bag 55, Hobart, Tasmania 7001, Australia
  3. GNS Science, P.O. Box 30368 Lower Hutt, New Zealand
  4. Department of Geology, University of Otago, P.O. Box 56, Dunedin 9054, New Zealand
American Journal of Botany 23 June 2011

Akses : DOI:10.3732/ajb.1000506

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment