Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Orang Amazon Peru Kebal Alami Virus Rabies

Jurnal KeSimpulan.com - Resistensi rabies muncul di lokasi terpencil yang kental Kelelawar Vampir penghisap darah (Desmodus rotundus). Sekitar 14 persen orang kebal rabies.

Warga dari dua komunitas di Peru tampaknya selamat dari infeksi. Kekebalan alami melindungi beberapa orang Amazon yang tinggal di habitat yang sarat kelelawar vampir penghisap darah (Desmodus rotundus) pembawa virus rabies.

"Mengapa orang-orang ini tidak mati? Sangat menarik," kata Amy Gilbert, ekolog US Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Tim dipimpin Gilbert bekerja sama dengan Peruvian Ministry of Health melakukan perjalanan ke dua komunitas di daerah terpencil Amazon Peru.

Wabah infeksi rabies akibat gigitan kelelawar vampir terjadi secara teratur di Peru selama beberapa dekade.

Tanpa pengobatan segera, virus rabies menuju ke otak dan menyebabkan demam, kelumpuhan, kejang dan kematian. Setiap tahun virus ini membunuh lebih dari 55.000 orang di seluruh dunia.

Ketika tim memeriksa sampel darah 63 orang, 7 dari mereka memiliki "antibodi penetral virus rabies". Satu orang di antaranya mendapat vaksin rabies sebelumnya, tapi 6 lainnya tidak, meskipun mereka melaporkan telah digigit kelelawar di masa lalu.

Antibodi diproduksi ketika tubuh langsung terkena rabies atau terkena vaksin virus. Gilbert dan rekan menyimpulkan 6 orang yang tidak divaksinasi dengan antibodi terkena rabies tanpa mengalami kematian harus memiliki kekebalan alami.

"Terlepas dari kenyataan bahwa kita menemukan antibodi, orang masih dianggap berisiko," kata Gilbert.

Tingkat antibodi yang diperlukan untuk melindungi tidak diketahui. Jika penelitian lebih lanjut mengkonfirmasi ada populasi orang yang lebih besar dengan kekebalan alami dapat membuka jalan bagi sistem pengobatan baru.
Evidence of Rabies Virus Exposure among Humans in the Peruvian Amazon

Amy T. Gilbert1 et.al.
  1. National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases, Centers for Disease Control and Prevention, Atlanta, Georgia
American Journal of Tropical Medicine and Hygiene (AJTMH) 2012 vol.87 no.2 206-215

Akses : DOI:10.4269/ajtmh.2012.11-0689

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment