KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Friday, August 10, 2012

Novel Henipavirus Cedar Protein V Kelelawar

Jurnal KeSimpulan.com - Mamalia terbang penghuni gelap menyimpan seribu misteri. Ketika menyembunyikan virus mematikan bagi manusia, kelelawar juara besar.

Mamalia terbang menjadi reservoir segala sesuatu dari rabies hingga Ebola. Tapi sekarang, para ilmuwan menemukan virus baru yang diselenggarakan kelelawar yang tampaknya tidak dapat menyebabkan penyakit pada hewan lain.

Pada tahun 2009 ketika ilmuwan Australia skrining virus Hendra dalam urin koloni kelelawar di Cedar Grove, Queensland, mereka menemukan virus baru.

Dijuluki Cedar. Di sisi lain virus Hendra adalah sepupu Nipah yaitu henipaviruses yang membunuh 40% dan 100% hewan termasuk manusia yang terinfeksi.

Hendra dan Nipah menjadi virus paling mematikan yang dikenal.

Anehnya, di laboratorium, tim peneliti menemukan virus Cedar menginfeksi musang dan kelinci tetapi antibodi membuat perlawanan. Tidak menjadi klinis. Terlebih lagi tidak ada kasus yang tercatat pada manusia.

Analisis genetik mengungkap Cedar juga keluarga henipavirus tapi dengan perbedaan kunci. Tidak seperti henipaviruses lain, Cedar tidak menghasilkan protein V yang memberi Hendra dan Nipah kemampuan untuk menghindari sistem kekebalan tubuh yang membuat mereka mematikan.

"Kami memperoleh wawasan yang membuat Hendra begitu berbahaya," kata Glenn Marsh, virulog Australian Animal Health Laboratory di Geelong.

Fokus Marsh dan rekan pada protein V. Marsh mengatakan timnya berencana untuk melakukan tindak lanjut eksperimental. Namun jika modifikasi gen V tidak membuat henipaviruses melemah, mungkin bukan hanya gen yang bertanggung jawab.

"Menggunakan rekayasa genetika dimungkinkan untuk memodifikasi virus sehingga tidak menghasilkan protein V atau alternatif menempatkan gen dari Hendra ke Cedar dan melihat apakah membuat patogen," kata Benhur Lee microbiologist at the University of California di Los Angeles.
Cedar Virus: A Novel Henipavirus Isolated from Australian Bats

Glenn A. Marsh1, Carol de Jong2, Jennifer A. Barr1, Mary Tachedjian1, Craig Smith2, Deborah Middleton1, Meng Yu1, Shawn Todd1, Adam J. Foord1, Volker Haring1, Jean Payne1, Rachel Robinson1, Ivano Broz1, Gary Crameri1, Hume E. Field2, Lin-Fa Wang1
  1. CSIRO Livestock Industries, Australian Animal Health Laboratory, Geelong, Australia
  2. Queensland Centre for Emerging Infectious Diseases, Biosecurity Queensland, Coopers Plain, Australia
PLoS Pathogens 8(8): e1002836, August 2, 2012

Akses : DOI:10.1371/journal.ppat.1002836
Gambar : 945ontwerp/iStockphoto

Artikel Lainnya:

No comments :

Post a Comment