Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Kelas Virus Baru Ular Evolusi Era Dinosaurus

Jurnal KeSimpulan.com - Virus yang tidak biasa menghuni ular menjadi tali kusut. Kelas virus baru ditemukan bisa menjadi penyebab munculnya penyakit fatal.

Sebuah kelas virus baru yang ditemukan mungkin menjadi pelaku suatu penyakit yang menyebabkan ular memuntahkan makanan mereka, berhenti makan dan bahkan melipat diri menjadi seperti ikatan mati pada tali. Laporan di mBio.

Tiga virus baru di penangkaran ular dengan inklusi penyakit fatal yang menyerang boa dan python serta menyebabkan gumpalan protein dalam sel-sel ular.

Genetik yang tidak biasa pada virus bisa memberi petunjuk kepada ilmuwan tentang evolusi virus kembali ke masa dinosaurus.

"Ini angat berbeda dari apa pun di luar sana dan hampir tak bisa dikenali," kata Joseph DeRisi, virulog Howard Hughes Medical Institute di University of California San Francisco.

Virus baru mirip arenavirus, kelas yang sebelumnya hanya ditemukan pada hewan pengerat. Kadang-kadang arenavirus, seperti salah satu yang menyebabkan Lassa demam berdarah, menginfeksi manusia, tapi virus tidak pernah ditemukan pada reptil sebelumnya.

Namun virus ular memiliki fitur yang tidak terlihat di setiap arenavirus seperti gen yang ditemukan di Ebola berada dalam kelas yang sama sekali berbeda yang disebut filovirus. Virolog pernah berpikir mungkin 2 kelas bisa bertukar gen.

Ebola bisa bercampur dengan arenavirus sehingga virus ular adalah kombinasi. Tapi kemungkinan tipis. Kedua jenis virus memiliki biologi berbeda sehingga menemukan keduanya aktif dalam sel dan waktu yang sama dalam materi genetik tampaknya tidak mungkin.

DeRisi gembira dengan kemungkinan lain. Mungkin virus ular merupakan leluhur kuno arenavirus dan filovirus. Virus reptil primordial mungkin telah menimbulkan arenavirus yang menginfeksi tikus.

"Mungkin apa yang Anda lihat ini era dinosaurus," kata DeRisi.

Atau bisa juga sebaliknya. Virus baru mungkin awalnya menginfeksi tikus seperti yang terjadi pada hari ini. Entah bagaiman hewan pengerat menularkan virus pada ular yang memakannya. Hipotesis balas dendam tikus.

Tidak ada bukti tikus modern menularkan penyakit ke hewan peliharaan ular. Dan meskipun virus ditemukan pada ular dengan penyakit inklusi tubuh, tidak selalu berarti virus penyebab penyakit.

Virus ular begitu berbeda sehingga menempati kelas sendiri. Kini sebuah dewan pakar internasional tentang taksonomi virus diharapkan memiliki kata akhir mengenai apakah virus benar-benar kelas baru, namun DeRisi yakin berbeda.
Identification, Characterization, and In Vitro Culture of Highly Divergent Arenaviruses from Boa Constrictors and Annulated Tree Boas: Candidate Etiological Agents for Snake Inclusion Body Disease

Mark D. Stenglein1, Chris Sanders2, Amy L. Kistler1, J. Graham Ruby1, Jessica Y. Franco1, Drury R. Reavill3, Freeland Dunker4, and Joseph L. DeRisi1,5
  1. Department of Biochemistry and Biophysics, University of California San Francisco, San Francisco, California, USA;
  2. Wildwood Veterinary Hospital, Portola Valley, California, USA;
  3. Zoo/Exotic Pathology Services, West Sacramento, California, USA;
  4. California Academy of Sciences, San Francisco, California, USA; and
  5. Howard Hughes Medical Institute, Chevy Chase, Maryland, USA
mBio 14 August 2012 vol.3 no.4 e00180-12

Akses : DOI:10.1128/mBio.00180-12
Gambar : Mark D. Stenglein et.al., mBio, DOI:10.1128/mBio.00180-12

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment