Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Dampak El Niño Memberi Efek Lebih Mematikan

Jurnal KeSimpulan.com - Sebuah link tak terduga antara peristiwa iklim El Nino dan peningkatan jumlah kematian di Asia Tenggara dilaporkan di Nature Climate Change.

El Niño menggantikan air hangat ke bagian timur Samudera Pasifik dan menghasilkan perairan dingin di dekat Indonesia yang biasanya meningkatkan penggunaan api dalam membersihkan lahan untuk pertanian. Polusi tambahan menjelaskan 15.000 kematian akibat El Niño.

"Kami biasanya berpikir deforestasi dan kebakaran dalam hal emisi karbon global," kata Miriam Marlier dariColumbia University’s Lamont-Doherty Earth Observatory di Palisades, New York.

"Tetapi kita juga melihat dampak regional pada kesehatan masyarakat," kata Marlier.

Cakupan wilayah merupakan rumah bagi 540 juta orang yang membentang dari Indonesia ke Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam dan Thailand.

Marlier dan tim memperkirakan emisi dari pengamatan satelit periode 1997-2006 yang dipasang ke dalam model kimia atmosfer untuk menganalisa polusi udara di wilayah tersebut.

Selama El Niño tahun 1997 ada lonjakan jumlah partikel halus di atmosfer, melebihi kualitas udara standar yang direkomendasikan WHO sebesar 300% untuk 200 hari dalam setahun.

Ada juga peningkatan tingkat ozon, komponen dari asap, untuk periode yang sama. Sebaliknya, ketika peristiwa La Niña pada tahun 2000 ketika air hangat meningkatkan musim hujan, tingkat partikulat karbon adalah 98% lebih rendah dibanding tahun 1997. Polusi yang paling buruk ada di Indonesia dan Malaysia tetapi juga meluas jauh ke daratan Asia.

Para peneliti menghitung polusi udara meningkat di tahun-tahun El Niño tepat menuju korban dalam populasi. Karbon partikulat yang berkontribusi pada penyakit jantung memiliki pengaruh terbesar, meningkatkan kematian 6.800 hingga 14.300 orang. Ozon menambah kematian 2.300 hingga 5.900.

"Mudah-mudahan temuan ini entah bagaimana memberi pemahaman kepada orang-orang yang paling terkena dampak kualitas udara buruk . Semua kebakaran ini disebabkan oleh manusia, sehingga pada prinsipnya dapat dicegah," kata Guido van der Werf dari VU University Amsterdam.

Drew Shindell dari NASA Goddard Institute for Space Studies di New York, terkejut bahwa pembakaran hutan memainkan peran besar dalam menentukan kualitas udara. Meskipun pembakaran berlangsung di Sumatera dan Kalimantan, efek yang terlihat hingga Singapura dan Kuala Lumpur.

"Saya tidak terkejut ada dampak besar di pedesaan, tapi ternyata pengaruh kebakaran ini begitu besar bahkan di daerah perkotaan. Ini benar-benar penting," kata Shindell.
El Niño and health risks from landscape fire emissions in southeast Asia

Miriam E. Marlier1 et.al.
  1. Department of Earth and Environmental Sciences, Lamont-Doherty Earth Observatory of Columbia University, Palisades, New York 10964, USA
Nature Climate Change 12 August 2012

Akses : DOI:10.1038/nclimate1658
Gambar : Miriam Marlier et.al., Nature Climate Change, DOI:10.1038/nclimate1658

Artikel Lainnya:

1 comment: