KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Friday, August 17, 2012

Aroma Seks dan Mayat Dermestes maculatus

Jurnal KeSimpulan.com - Aroma seks dan kematian menarik hati kumbang Dermestes maculatus perawan. Untuk satu serangga, daya tarik feromon seks tidak cukup untuk merayu kawin.

Tapi bujukan seks dalam aroma daging busuk sulit tertahankan. Kumbang Dermestes maculatus tertarik pada benzyl butyrate, zat kimia yang dilepaskan dalam konsentrasi tinggi dari mayat dalam tahap akhir pembusukan.

Sinergi aroma cinta dan daging busuk jadi lingkungan baik untuk perkembangan larva yang sehat dan kuat. Laporan di Frontiers in Zoology

Kehadiran mereka menjadi suatu bagian untuk memprediksi proses pembusukan. Dunia forensik menggunakannya untuk memperkirakan kematian. Tapi tidak jelas.

Christian von Hoermann, entomolog forensik Ulm University di Jerman, dan rekan memapar Dermestes maculatus perawan dengan aroma untuk memikat mereka.

Baik feromon seks laki-laki atau aroma mayat babi pada berbagai tahap pembusukan secara bermakna lebih menarik bagi betina perawan dibanding aroma kontrol pelarut. Tapi kombinasi aroma nayat babi dan feromon jantan lebih memikat perempuan.

Daging yang membusuk adalah tempat yang ideal bagi larva kumbang hidup dengan sehat dan tempat yang lebih baik untuk kawin di mana anak-anak dapat tumbuh sehat dan kuat.

"Ini aroma cinta. Sebuah buket jujur untuk tahap dekomposisi yang sesuai untuk perkembangan larva," kata von Hoermann.

Perilaku serupa terlihat pada serangga lain yang bergantung pada sumber daya tidak merata. Menemukan sumber makanan yang cocok, mereka melepaskan feromon untuk menarik perempuan yang lapar dan laki-laki di tempat yang sama.

Kalajengking laki-laki menebar feromon ketika memiliki hadiah makanan serangga, sementara lalat buah pepaya laki-laki melakukan hal yang sama ketika melihat buah-buahan ranum.
The attraction of virgin female hide beetles (Dermestes maculatus) to cadavers by a combination of decomposition odour and male sex pheromones

Christian von Hoermann, Joachim Ruther and Manfred Ayasse

Frontiers in Zoology 14 August 2012

Akses : DOI:10.1186/1742-9994-9-18
Gambar : Troy Roper/ufl.edu

Artikel Lainnya:

No comments :

Post a Comment