Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Sel Magnetoreseptor Di Hidung Ikan Trout

Jurnal KeSimpulan.com - Sel hidung ikan Trout merasakan medan magnet. Jaringan kaya zat besi dapat berfungsi sebagai kompas biologis. Misteri lama dijawab ikan.

Sel dipetik dari lingkar moncong ikan trout seperti kompas kecil dengan magnet di dekatnya. Sensitivitas yang dikreditkan ke besi di dalam sel dapat menjelaskan bagaimana ikan, burung dan hewan lain merasakan medan magnet Bumi. Misteri lama di antara para biolog.

"Beberapa dekade para ilmuwan mencari sel yang bertanggung jawab untuk magnetosasi," kata David Keays, neurosaintis Research Institute of Molecular Pathology di Wina.

Demonstrasi pertama kompas internal hewan hampir setengah abad lalu ketika eksperimen menunjukkan burung robin berubah bila dipapar medan magnet.

Burung lainnya serta penyu dan beberapa ikan dan amfibi berbagi kemampuan perasa magnet yang luar biasa.

Tetapi sel-sel di balik rasa yang tidak biasa tetap sulit dipahami. Medan magnet mudah menembus daging sehingga reseptor dapat bersembunyi di mana saja dalam tubuh. Petunjuk terbaru melihat jaringan hidung sebagai tempat untuk melihat.

Pada ikan, medan magnet merangsang sel-sel otak yang terhubung ke rongga hidung. Michael Walker, neurosaintis University of Auckland di Selandia Baru, menemukan kristal magnetit, mineral alam yang paling magnetik, dalam jaringan hidung ikan tuna.

Sekarang Michael Winklhofer dari University of Munich dan rekan mengambil jaringan terpisah penciuman Rainbow Trout. Membiarkan sel mengambang bebas yang dibombardir medan magnet.

"Mencari sel magnetosensori benar-benar seperti mencari jarum di tumpukan jerami," kata Winklhofer.

Berbeda dengan reseptor padat untuk rasa, penciuman dan penglihatan, sel magnetik harus menyebar karena magnetit yang memungkinkan setiap sel untuk merasakan medan magnet juga menghasilkan medan lemah yang dapat mengganggu sel lain.

Sel-sel ini diwakili sekitar 1 sampai 4 sel dari setiap 10.000 sel, berputar dalam pelukan erat dengan perputaran medan magnet. Setelah melihat lebih dekat pada tango mikroskopis terungkap rantai magnetit terpaku di dalam membran setiap sel. Seperti jarum magnet kompas, mineral yang kaya zat besi dipandu sel sekitarnya.

Dalam jaringan hidup, sel tidak bebas berputar dalam mode ini. Tapi push magnetit bisa membuka pori-pori membran sel. Partikel bermuatan bergerak masuk dan keluar memicu impuls listrik dan merangsang otak. Untuk mendukung teori, para peneliti mencari gerakan kalsium yang dibebankan dalam sel hidup.
Magnetic characterization of isolated candidate vertebrate magnetoreceptor cells

Stephan H.K. Eder1, Hervé Cadiou2, Airina Muhamad2, Peter A. McNaughton2, Joseph L. Kirschvink3, and Michael Winklhofer1
  1. Department of Earth and Environmental Sciences, Ludwig-Maximilians-University Munich, D-80333 Munich, Germany
  2. Department of Pharmacology, University of Cambridge, Cambridge CB2 1PD, United Kingdom; and
  3. Division of Geological and Planetary Sciences, California Institute of Technology, Pasadena, CA 91125
Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) July 9, 2012

Akses : DOI:10.1073/pnas.1205653109
Gambar : Eric Engbretson/U.S. Fish and Wildlife Service/En Wikipedia
Video : Stephan H.K. Eder et.al., PNAS, DOI:10.1073/pnas.1205653109
YouTube : KeSimpulan.com http://www.youtube.com/user/KeSimpulanTube




Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment