Pages

Hukuman Dimotivasi oleh Kebencian Ketidakadilan

Jurnal KeSimpulan.com - Apakah Anda ksatria dalam gelap ataukah ksatria berbaju gelap? Dalam sejarah peradilan di dunia, banyak konteks yang mendasari bagaimana palu diketok.

Jika Anda menemui pencopet yang merobek dompet Anda dalam angkutan umum, Apakah Anda hanya menuntut agar dompet Anda dikembalikan ataukah Anda ingin membalas dendam? Keputusan untuk menghukum si pencuri mungkin bergantung apakah si pencuri lebih kaya dari Anda.

Motivasi menghukum muncul dari kebencian ketidakadilan, bukan menuntut imbal balik.

Menurut semua teori ekonomi, kepentingan diri adalah motivator perdana perilaku manusia.

Namun, studi menunjukkan orang secara konsisten mengorbankan kesejahteraan diri sendiri untuk menghukum penipu.

Tidak peduli berapa uang Anda hilang yang penting Anda merasa puas telah menghukum pencopet dompet Anda.

Tapi pada tahun 1999, ekonom Swiss Ernst Fehr dan Klaus Schmidt mendefinisikan reaksi dengki terhadap penipu sebagai "inequity aversion." Mereka menghipotesiskan perilaku ini penting dalam negoisasi dan berbeda konteks dengan "reciprocity" seperti disebut para sosiolog.

Orang menghukum penipu ketika merasa ada ketidakadilan yang menantang gagasan bahwa hukuman dimotivasi oleh balas dendam. Korban kecurangan membandingkan hadiah mereka sendiri dengan para mitra ketika membuat keputusan hukuman.

"Hukuman adalah perilaku mahal yang sering ditujukan pada individu yang curang selama interaksi sosial," kata Nichola Raihani, biolog evolusioner University College London.

"Beberapa studi sebelumnya menunjukkan hukuman dimotivasi oleh emosi negatif. Namun kami ingin tahu secara tepat apa yang membuat orang ingin menghukum penipu,"

"Seseorang mencuri £10 dari Anda. Apakah Anda menghukum dia karena biaya £10, ataukah Anda menghukum karena pencuri akhirnya £10 lebih kaya dibanding Anda?"

Meskipun punisher melakukan investasi awal dengan menyakiti penipu, investasi dapat dibayar jika penipu berperilaku kooperatif dalam interaksi di masa depan. Inilah hubungan antara hukuman dan kerjasama dengan motif ekonomi yang mendukungnya.

Meskipun emosi negatif memotivasi hukuman, belum jelas mengapa emosi ini diproduksi selama interaksi. Salah satu kemungkinan korban penipuan mengalami emosi negatif karena menipu adalah pelanggaran norma kerjasama dalam masyarakat yang membebankan kerugian pada mitra kooperasi.

Mengelusidasi motif pemicu hukuman mungkin memberi wawasan ke dalam fungsi utama perilaku hukuman pada manusia. Secara khusus hukuman yang bertujuan mempromosikan perilaku adil bukan hanya menghalangi mitra dari kecurangan. Banyak konteks bagaimana pelaksanaan hukuman.
Human punishment is motivated by inequity aversion, not a desire for reciprocity

N. J. Raihani1 and K. McAuliffe2
  1. Department of Genetics Evolution and Environment, University College London, London WC1E 6BT, UK
  2. Department of Human Evolutionary Biology, Harvard University, Cambridge, MA 02138, USA
Biology Letters July 18, 2012

Akses : DOI:10.1098/rsbl.2012.0470

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment