KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Jumat, 01 Juni 2012

Mentalisasi Batas Kepercayaan Personal Tuhan

Jurnal KeSimpulan.com - Percayaan kepada dewa terkait kemampuan dalam mentalisasi. Kurangnya kemampuan mentalisasi berkurang pula kepercayaan pada tuhan.

Percaya kepada dewa/tuhan atau kekuatan supranatural lainnya secara krusial terkait dengan kemampuan kognitif untuk menyimpulkan keadaan mental manusia yang disebut "theory of mind" atau "mentalizing." Penelitian pada autisme memperkuat teori bahwa kita membaca pikiran dewa dengan membaca pikiran orang lain.

Salah satu efek autisme adalah gangguan kemampuan dalam menyimpulkan dan merespon apa yang orang lain pikirkan.

Orang dengan autisme cenderung tidak percaya pada tuhan karena beragama bergantung pada kemampuan membayangkan apa yang tuhan pikirkan.

Para peneliti telah lama bertanya-tanya apakah kondisi ini mempengaruhi kemungkinan mereka tidak percaya pada tuhan.

"Defisit mentalizing diprediksi menyebabkan penurunan intuisi dalam kepercayaan beragama," kata Ara Norenzayan, psikolog University of British Columbia di Vancouver.

Penelitian pada remaja autism hampir 90 persen kurang percaya tuhan. Penelitian lain tentang keyakinan agama juga menunjukkan bahwa pria lebih buruk dibandingkan wanita dalam mentalisasi. Ini berkorelasi secara gender dengan rendahnya keyakinan tuhan pada pria dibanding wanita.

"Jika pemikiran tentang tuhan personal melibatkan kemampuan mentalizing, maka defisit mentalizing membuat keyakinan pada tuhan kurang intuitif dan karena itu kurang percaya pada tuhan. Kami menemukan dukungan hipotesis dari 4 studi berbeda."

Norenzayan dan rekan meminta responden menilai pada skala 1 sampai 7 untuk pernyataan tentang keyakinan mereka seperti: "When I am in trouble, I find myself wanting to ask God for help".

Tim juga meminta responden mengisi kuesioner standar disebut Empathy Quotient yang meminta responden untuk menilai diri pada pernyataan seperti: "I am good at predicting how someone will feel".

Namun para peneliti mengingatkan bahwa ada berbagai alasan psikologis yang terkait seperti sejarah dan budaya. Mentalisasi hanya salah satu di antara banyak faktor. Bagaimanapun temuan tidak membuktikan bahwa kepercayaan tuhan bergantung secara eksklusif pada mentalisasi.

"Kita tidak bisa menyimpulkan kausalitas tanpa penelitian lebih lanjut," kata Norenzayan.

Ada banyak alasan lain mengapa orang mungkin tidak percaya pada tuhan. Bulan lalu tim Norenzayan menunjukkan pemikir analitis cenderung tidak percaya pada Tuhan. Orang mungkin mengadopsi agama untuk sejumlah alasan psikologis dan budaya yang bebas dari kemampuan "mind-reading".

Penelitian sebelumnya menunjukkan area otak yang penting dalam mentalisasi aktif ketika orang berdoa. Kurangannya dalam mentalisasi pada orang autis berkorelasi dengan penurunan keyakinan pada tuhan tidak mengejutkan. Tetapi bagaimanapun laporan Norenzayan membuka ekplorasi data empiris.
Mentalizing Deficits Constrain Belief in a Personal God

Ara Norenzayan1, Will M. Gervais1, Kali H. Trzesniewski2
  1. Department of Psychology, University of British Columbia, Vancouver, Canada
  2. Department of Human Development and Family Studies, University of California, Davis, Davis, California, United States of America
PLoS ONE, 7(5): e36880, May 30, 2012

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0036880
Ara Norenzayan http://www2.psych.ubc.ca/~ara/

Artikel Lainnya:

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Jurnal Sains