Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Afrasia djijidae Out of Asia Leluhur Manusia

Jurnal KeSimpulan.com - Para peneliti sependapat nenek moyang langsung kita adalah primata bipedal yang muncul di Afrika. Namun spesimen di Myanmar menggulingkan hipotesis.

Sebuah spesimen primata berdating 37 juta tahun di rawa kuno Myanmar meminta rekonstruksi ulang pohon keluarga primata dengan hipotesis alternatif munculnya leluhur manusia berakar di Asia. Jika benar, nenek moyang semua monyet, kera, dan manusia disebut antropoid muncul di Asia.

Dengan demikian mereka melakukan perjalanan sulit ke pulau Afrika 40 juta tahun lalu.

Selama 18 tahun terakhir, fosil setiap antropoid awal ditemukan di Mesir berdating 30 juta tahun.

Pada tahun 1990-an, para peneliti menemukan spesimen primata mungil berdating 37 juta hingga 45 juta tahun di Cina, Myanmar, dan negara Asia lainnya.

Antropoid mungkin benar-benar muncul di Asia dan bermigrasi ke Afrika beberapa juta tahun kemudian.

Tetapi paleontolog tidak memiliki fosil untuk menunjukkan kapan dan bagaimana antropoid berjalan kaki dari Asia ke Afrika, kata Christopher Beard, paleontolog Carnegie Museum of Natural History di Pittsburgh, Pennsylvania.

Pada tahun 2005, Beard dan tim internasional memilah fosil ikan, penyu, dan gigi leluhur kuda nil dari sedimen Nyaungpinle di Myanmar. Mereka menemukan molar kernel seukuran popcorn. Gigi berdating 38 juta tahun milik spesies baru primata seukuran tupai kecil. 4 geraham antropoid primitif dinamai Afrasia djijidae.

"Ini tempat yang sulit untuk bekerja, kami butuh 6 tahun untuk menemukan 4 gigi," kata Beard.

Empat gigi geraham sudah cukup bagi Beard dan Jean-Jacques Jaeger, paleontolog University of Poitiers di Perancis, mengkaitkan Afrasia dengan antropoid primitif yang hidup pada waktu yang sama terkait spesies Afrika yang terkenal Afrotarsius libycus dari Libya.

Gigi primata di bawah mikroskop begitu serupa dalam ukuran dan bentuk, mungkin milik spesies yang sama. Kemiripan erat antara fosil antropoid Asia dan Afrika telah ditunjukkan sebelumnya.

Namun, analisis lanjut melihat geraham Afrasia djijidae lebih primitif dibanding Afrotarsius libycus terutama tonjolan kecil di bagian belakang molar terakhir lebih rendah. Ciri-ciri primitif serta keragaman lebih besar dan usia dini atau induk antropoid di Asia dibanding Afrika menunjukkan keluarga ini muncul di Asia dan bermigrasi ke Afrika 37 juta hingga 39 juta tahun lalu.

"Antropoid tidak tiba di Afrika sampai tepat sebelum kita menemukan fosil di Libya," kata Jaeger.

Skenario Out of Asia mungkin kompleks. Tim mengusulkan lebih dari satu jenis antropoid yang bermigrasi dari Asia ke Afrika pada saat itu karena setidaknya ada 2 jenis antropoid awal hidup pada waktu yang sama dengan Afrotarsius libycus di Libya, namun mereka tidak terkait erat dengan Afrotarsius atau Afrasia.

Begitu mereka ke Afrika, Afrasia djijidae menemukan kondisi ideal yang subur dengan sedikit karnivora dan mengalami perkembangan evolusioner dengan cepat sehingga memunculkan sejumlah spesies baru. Peneliti lain sependapat jika kedua spesies baru primata dari Myanmar dan Libya memang antropoid awal.

"Jika terbukti, signifikansi biogeografis temuan ini mendalam," kata Richard Kay, paleontolog Duke University di Durham, North Carolina.

Ada migrasi besar primata dan mamalia lain antara 2 benua pada saat itu, tapi tidak mudah untuk menyeberang Laut kuno Tethys yang membagi Afrika dan Asia. Dan bagi manusia menunjukkan akar terdalam primata dari Asia, bukan Afrika.

Lesamaan antar spesies terletak pada hanya 4 geraham Afrasia, meskipun gigi adalah cara yang paling handal untuk mengukur keterkaitan. Dan beberapa peneliti belum yakin bahwa Afrotarsius di Libya adalah antropoid dan bukan leluhur tarsius, primata bukan antropoid.

"Kita semua telah mendengar Out of Afrika asal-usul manusia. Sekarang kita berpikir ada migrasi Out of Asia ke Afrika pertama," kata Beard.
Late Middle Eocene primate from Myanmar and the initial anthropoid colonization of Africa

Yaowalak Chaimanee1, Olivier Chavasseau1, K. Christopher Beard2, Aung Aung Kyaw3, Aung Naing Soe4, Chit Sein5, Vincent Lazzari1, Laurent Marivaux6, Bernard Marandat6, Myat Swe3, Mana Rugbumrung7, Thit Lwin8, Xavier Valentin1, Zin-Maung -Maung-Thein9, and Jean-Jacques Jaeger1
  1. Institut International de Paléoprimatologie et de Paléontologie Humaine, Évolution et Paléoenvironnements, Unité Mixte de Recherche (UMR) Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) 7262, Université de Poitiers, 86022 Poitiers Cedex, France
  2. Section of Vertebrate Paleontology, Carnegie Museum of Natural History, Pittsburgh, PA 15213
  3. Department of Archaeology, Ministry of Culture, Mandalay, Myanmar
  4. Department of Geology, Defence Services Academy, Pyin Oo Lwin, Myanmar
  5. Department of Geology, Hinthada University, Hinthada, Myanmar
  6. Institut des Sciences de l’Évolution, UMR CNRS 5554, Université Montpellier II, 34095 Montpellier, France
  7. Paleontology Section, Department of Mineral Resources, Bangkok 10400, Thailand
  8. Department of Geology, Pyay University, Pyay, Myanmar
  9. Department of Geology, University of Mandalay, Mandalay, Myanmar
Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), June 4, 2012

Akses : DOI:10.1073/pnas.1200644109
Gambar : K. Christopher Beard/PNAS

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment