Pages

Energi Gelap Masih Konstanta Kosmologis

Jurnal KeSimpulan.com - Meskipun disodok dari kanan dan kiri, Einstein masih tetap bos, demikian temuan tim proyek BOSS yang mengukur percepatan luas alam semesta.

Proyek BOSS (Baryon Oscillation Spectroscopic Survey) telah mengukur semakin akurat percepetan luas galaksi yang semakin meluas. Pemetaan ruang sebagaimana yang ada sekitar 6 miliar tahun lalu ketika hanya 63 persen dari ukuran saat ini.

Misteri hipotetik "energi gelap" yang menyebabkan alam semesta mengembang masih pada tingkat percepatan yang diramalkan oleh Einstein.

Untuk menjaga alam semesta dalam keadaan statis, Einstein menambahkan formula "konstanta kosmologis" untuk teori relativitas umum.

Ketika alam semesta kemudian diketahui berkembang, Einstein tetapi menyebut konstan.

Tapi "kesalahan terbesar" dalam beberapa tahun terakhir bahwa konstanta kosmologis yang menjelaskan gaya tolak ditemukan di semua ruang.

Pertama kali dilaporkan tahun 1998 bahwa alam semesta berkembang lebih cepat dan semakin cepat. Bukti percepatan ekspansi merupakan tekanan negatif dari konstanta kosmologis atau bentuk lain energi gelap atau oleh beberapa cacat relativitas umum. Temuan BOSS mendukung gambar energi gelap.

"Kami tidak menemukan penyimpangan relativitas umum pada skala sangat besar ini," kata Nikhil Padmanabhan, fisikawan Yale University.

BOSS adalah bagian dari proyek ketiga (SDSS) Sloan Digital Sky Survey hingga tahun 2014. Kunci pengukuran jejak gelombang suara disebut baryon acoustic oscillations yang beku dalam radiasi 300.000 tahun pasca Big Bang sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Gelombang suara yang disebabkan lengkung spasi teratur dalam distribusi galaksi di seluruh alam semesta yang berfungsi sebagai semacam energi ruang.

BOSS http://www.sdss3.org/surveys/boss.php

Regulasi ini memungkinkan peneliti mengukur jarak ke periode ketika luas alam semesta 63 persen dari ukuran saat ini pada 2.094 juta parsecs (akurasi plus-minus 34 juta parsecs atau presisi 1,7 persen. Satu parsec setara 3,26 tahun cahaya). Pengukuran SDSS sebelumnya adalah 75 persen dengan presisi 2 persen. Temuan baru konsisten dengan energi gelap yang dijelaskan oleh konstanta kosmologi Einstein.

"Pada tahap ini, kita semua mencoba untuk memicu konstanta kosmologis. Ini adalah peluru cukup tajam ketika Anda mengukur lebih tepat daripada sebelumnya," kata Adam Riess, nobelis dan fisikawan Johns Hopkins University, penemu percepatan ekspansi ruang.

Riess mengatakan dalam beberapa tahun ke depan dengan menggabungkan data osilasi akustik baryon serta cara lain untuk menyelidiki tingkat ekspansi ruang dari waktu ke waktu, harus semakin tepat pengukuran energi gelap dengan faktor 100.
The clustering of galaxies in the SDSS-III Baryon Oscillation Spectroscopic Survey: Baryon Acoustic Oscillations in the Data Release 9 Spectroscopic Galaxy Sample

Lauren Anderson et.al.

arXiv (Submitted on 29 Mar 2012)

Akses : arXiv:1203.6594

The clustering of galaxies in the SDSS-III Baryon Oscillation Spectroscopic Survey: measurements of the growth of structure and expansion rate at z=0.57 from anisotropic clustering

Beth A. Reid

arXiv (Submitted on 29 Mar 2012)

Akses : arXiv:1203.6641

The clustering of galaxies in the SDSS-III Baryon Oscillation Spectroscopic Survey: cosmological implications of the large-scale two-point correlation function

Ariel G. Sanchez

arXiv (Submitted on 29 Mar 2012)

Akses : arXiv:1203.6616
Nikhil Padmanabhan http://physics.yale.edu/padmanabhan
Adam Riess http://www.stsci.edu/~ariess/

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment