Pages

Tawon Raksasa Sulawesi Megalara garuda

Jurnal KeSimpulan.com - Tawon raksasa mendapat simbol mitologi Indonesia. Megalara garuda, spesies baru yang dideskripsikan dari pegunungan Sulawesi.

Tawon perempuan penggali soliter melumpuhkan serangga lain. Jazad dikubur di tanah mengitari telur sebagai lumbung makanan sumber makanan keturunan. Ekologi perilaku tawon penggali begitu dihormati. Biolog Lynn Kimsey dan Michael Ohl menghormatinya dengan hewan mitologi Indonesia: Garuda.

Genus baru tawon penggali ini pertama kali dikumpulkan tahun 1930-an di pulau Sulawesi tetapi belum dideskripsi.

Genus dan spesies tak dikenal dalam sejarah tawon apoid Museum fuer naturkunde di Berlin.

Sebuah survei di Pegunungan Mekongga dan Papalia barat dan selatan Kota Kendari di Sulawesi Tenggara.

Tampak terkait erat dengan genera Asia Tenggara Dalara dan Paraliris.

Dalara berisi dua spesies, Dalara mandibularis dari Filipina dan Dalara schlegelii dari Sumatera.

Paraliris memiliki empat spesies yaitu Paraliris faceta dari India dan Burma, Paraliris kriechbaumeri dari Jawa, Paraliris sycorax dan Paraliris truncatus van der Vecht dari Kalimantan.

Megalara garuda dari Sulawesi adalah salah satu anggota terbesar Larrini. Besar, berwarna hitam pekat dan rahang sabit. Lynn Kimsey dari University of California, Davis, dan Michael OHL dari Museum für Naturkunde di Berlin, Jerman, berspekulasi rahang digunakan untuk menangkap wanita selama kopulasi.
Megalara garuda, a new genus and species of larrine wasps from Indonesia (Larrinae, Crabronidae, Hymenoptera)

Lynn S. Kimsey1 dan Michael Ohl2
  1. Bohart Museum of Entomology, University of California, Davis, 95616, USA
  2. Museum fuer Naturkunde, Leibniz-Institut fuer Evolutions und Biodiversitaetsforschung an der Humboldt-Universität zu Berlin, Germany
ZooKeys 177: 49–57, 23 March 2012

Akses : DOI:10.3897/zookeys.177.2475
Gambar : Lynn Kimsey dan Michael Ohl, DOI:10.3897/zookeys.177.2475

Artikel Lainnya:

1 comment:

  1. ini penemunya katanya peneliti indonesia, trus spesimennya dipinjem ama peneliti asing. Lalu dipublikasikan di jerman. Indonesia kecolongan. Makanya jangan mudah percaya....

    ReplyDelete