Pages

Neolib dan Neokon Kontinum Cerdas dan Bodoh

Jurnal KeSimpulan.com - Otak, keyakinan dan bias rasial. Liberal dan konservatif, cerdas dan bodoh menilai diri dan sikap terhadap lingkungan. Laporan di Psychological Science

Politisi Indonesia membuat istilah baru yang aneh didunia untuk menempel cap di jidat lawan politik dengan neolib (neo liberal), meskipun mereka sendiri tidak mau dan protes jika dicap jidat balik dengan neokon (neo konsevatif). Tapi ini seru dalam pertarungan Neolib Vs Neokon.

Beberapa pandangan menunjukkan konservatif lebih didorong oleh rasa takut pada kaum liberal.

Pandangan lain, kaum liberal dan konservatif hanyalah cara berbeda dalam 'melihat' dunia.

Namun sejauh ini, kita belum tahu kelompok mana yang lebih cerdas.

Satu tim peneliti dari Kanada mengingatkan kita bahwa anak-anak dengan kecerdasan rendah lebih mungkin mengembangkan sikap bias atau prasangka rasial.

Sedangkan kecerdasan rendah pada orang dewasa cenderung memilih jalur sosial konservatif.

Kita harus hati-hati bahwa ini menguji korelasi antara kecerdasan dan rasisme dalam konteks ideologi. Kecerdasan baik verbal dan nonverbal sebagai definisi operasional untuk mengukur konservatisme dan rasisme sosial. Konservatisme diukur langsung dari laporan kehidupan keluarga hingga sekolah.

Sikap rasial diukur dari respon terhadap pernyataan seperti "Saya keberatan bekerja dengan orang dari ras lain" atau "Saya keberatan jika keluarga bertetangga dengan rumah ras lain". Ini mengukur rasisme terang-terangan.

Konsisten dengan kajian teoritis. Kecerdasan rendah berkorelasi dengan sikap rasisme. Tetapi hubungan keduanya (akal dan prasangka) sebagian besar dijelaskan oleh ideologi politik. Artinya, kaum konservatif memiliki kecerdasan lebih rendah dan rasisme lebih tinggi secara simultan dibanding kaum liberal.

Tak kenal maka tak sayang. Realitas sehari-hari memang kita sering melihat kecenderungan kaum konservatif kurang memiliki jalinan sosial dengan orang-orang dari ras lain dibanding kaum liberal.

Para peneliti kemudian melakukan studi terhadap mahasiswa Amerika dan menemukan pola hubungan yang sama ketika bersikap terhadap homoseksual. Konservatif cenderung kurang cerdas, lebih berprasangka dan cenderung kurang memiliki kontak dengan kaum homoseksual daripada yang liberal (untungnya penelitian tidak dilakukan di Iran. Bisa diberondong peluru ala Hitler!)

Para peneliti menunjukkan ideologi konservatif menawarkan struktur dan roadmap untuk bakat sikap kurang intelektual. Saran yang mungkin terlalu berat bagi mentalitas kaum konservatif dalam pertimbangan untuk mengambil perspektif pribadi seseorang yang berbeda. Ini adalah masalah lama. Kurang empati memupuk bias dan rasialisme.

Namun tidak semua kaum konservatif berprasangka, bodoh dan terisolasi pada diri sendiri. Seperti halnya kaum liberal tidak selamanya brilian, bebas bias, atau terbiasa dengan beda pendapat. Temuan merupakan "rata-rata" kelompok besar orang dari kedua orientasi.

Bukan rahasia ketika warga berpendidikan rendah menjadi bulan-bulanan partai ideologi konservatif untuk meraup suara pemilu meskipun para peneliti tidak menjelaskan persis bagaimana mekanisme langsung pilihan politik dapat diprediksi dengan tingkat intelektualitas dan prasangka rasial atau IQ dan sebagainya.
Bright Minds and Dark Attitudes: Lower Cognitive Ability Predicts Greater Prejudice Through Right-Wing Ideology and Low Intergroup Contact

Gordon Hodson1 dan Michael A. Busseri1
  1. Gordon Hodson, Department of Psychology, Brock University, 500 Glenridge Ave., St. Catharines, Ontario, Canada L2S 3A1 E-mail: ghodson@brocku.ca

Psychological Science, January 5, 2012

Akses : DOI:10.1177/0956797611421206

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment