Pages

Oker Merah Homo Neanderthalensis 200.000 Tahun Lalu

Jurnal KeSimpulan.com - Sekitar 200.000 tahun yang lalu saudara sepupu kita mengeksplorasi warna. Homo Neanderthalensis berkarya dengan bahan oker merah.

Sampai hari ini, kerabat jauh kita, Homo Neanderthalensis, memiliki citra bebal, berpikir lambat dan cenderung tidak kreatif. Sekarang, bukti baru menghalau bagian pencitraaan buruk tersebut. Arkeolog menggali situs di Belanda menemukan batu api dan fragmen tulang berdating 200.000 tahun yang mengandung oker merah.

Ochre adalah jenis pigmen Bumi berwarna tanah liat alami yang telah mengalami oksida mineral di dalamnya. Oksida besi juga dikenal sebagai hematit.

Meskipun peneliti tidak mengetahui apa tujuan oker merah, bahan tersebut bukan asli lingkungan lokal.

Neanderthal harus menemukannya di beberapa lokasi terpencil lainnya dan melakukan transportasi kembali.

Bahan digunakan untuk beberapa tujuan, mungkin sebagai pigmen untuk menggambar artistik pada batu atau bahkan di tubuh.

Masyarakat pemburu-pengumpul modern juga menggunakan oker merah sebagai pelindung dari gigitan serangga, pengawet makanan, obat-obatan dan sarana penyamakan. Tidak diketahui Neanderthal menggunakan untuk apa.

Neanderthal ditemukan di Eropa dan Asia barat. Mereka hidup selama Pleistosen (600.000-350.000 tahun lalu) dan diyakini punah sekitar 30.000 tahun lalu dengan penyebab yang tidak diketahui. Temuan oker berdating 200.000-250.000.

Temuan sebelumnya penggunaan oksida mangan dan besi oleh Neanderthal 60.000-40.000 tahun lalu, meskipun belum ada bukti penggunaan untuk apa. Laporan juga mencatat penggunaan oker oleh Neanderthal di Eropa bertepatan dengan awal penggunaan oker oleh Homo sapiens di Afrika yang lebih modern.
Use of red ochre by early Neandertals

Wil Roebroeks1, Mark J. Sier1,2,3, Trine Kellberg Nielsen1, Dimitri De Loecker1, Josep Maria Parés2, Charles E. S. Arps4, dan Herman J. Mücher5
  1. Faculty of Archaeology, Leiden University, 2300 RA, Leiden, The Netherlands
  2. Centro Nacional de Investigación Sobre la Evolución Humana, 09002 Burgos, Spain
  3. Paleomagnetic Laboratory Fort Hoofddijk, Department of Earth Sciences, Faculty of Geosciences, Utrecht University, 3584 CD, Utrecht, The Netherlands
  4. NCB Naturalis, 2300 RA, Leiden, The Netherlands; and
  5. University of Amsterdam, 6301 VK, Valkenburg, The Netherlands
PNAS, January 23, 2012

Akses : DOI:10.1073/pnas.1112261109
Gambar : Wil Roebroeks et.al., PNAS, DOI:10.1073/pnas.1112261109

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment