Pages

Neurobudaya Memeta Lokasi Nilai Sakral di Area Otak

Jurnal KeSimpulan.com - Keyakinan sakral ditulis di otak. Neurobudaya membaca aktivasi otak merespon konflik-konflik politik, sosial, budaya dan agama.

Perubahan budaya mempengaruhi otak kita dan perubahan otak kita mempengaruhi budaya. Anda tidak dapat memisahkan keduanya. Otak adalah direktur tubuh. Tidak ada satu pun perilaku anda tanpa di-ACC oleh otak.

Preses biologis bermain dalam konflik atas politik dan agama. Bidang ilmiah baru yaitu neurobudaya.

Namun pencitraan neuro menunjukkan nilai-nilai sakral diproses di lokasi-lokasi otak yang berbeda.

"Eksperimen kami menemukan aturan agama, nasionalisme atau kode etik diproses di lokasi yang berbeda," kata Gregory Berns, neuroekonomikawan Emory University.

Nilai-nilai sakral meminta aktivasi area otak lebih besar terkait basis aturan benar versus salah dalam proses berpikir melawan area terkait pemrosesan biaya versus manfaat.

Penelitian yang dibiayai U.S. Office of Naval Research, U.S. Air Force Office of Scientific Research dan National Science Foundation ini juga melibatkan tim ekonom dan antropolog. Berns sedikit cerita ke Philosophical Transactions of the Royal Society.

"Kami datang dengan metode untuk menjawab pertanyaan ilmiah bagaimana orang membuat keputusan di bawah nilai-nilai sakral. Nilai-nilai fundamental diwakili di otak."

Functional magnetic resonance imaging (fMRI) mengeledah respon otak 32 orang dewasa selama fase kunci eksperimen. Pada tahap pertama, peserta ditunjukkan berbagai pernyataan. Masing-masing 62 pernyataan memiliki sepasang kontradiktif dan harus memilih salah satu.

Para peserta bisa mendapatkan US$100 per pernyataan dengan hanya menandatangani dokumen yang menyatakan kebalikan dari apa yang mereka yakini.

Data pencitraan otak menunjukkan korelasi kuat antara nilai-nilai sakral dengan aktivasi sistem saraf terkait hak mengevaluasi dan kesalahan (left temporoparietal junction) dan aturan semantik (left ventrolateral prefrontal cortex). Penelitian juga menemukan aktivasi di amigdala, tetapi hanya dalam kasus nasionalisme dan kebalikan dengan agama.

"Kebanyakan kebijakan publik didasarkan pada insentif dan disinsentif. Temuan kami menunjukkan hal tersebut tidak masuk akal didasarkan pada analisis biaya dan manfaat ketika membawa nilai-nilai sakral karena ini diproses dalam sistem otak yang sama sekali berbeda dari insentif."

"Kita sekarang memiliki sarana untuk mulai memahami hubungan ini dan menempatkan bidang ilmiah yang relatif baru."
The price of your soul: neural evidence for the non-utilitarian representation of sacred values

Gregory S. Berns1, Emily Bell1, C. Monica Capra1, Michael J. Prietula2, Sara Moore1, Brittany Anderson1, Jeremy Ginges3 dan Scott Atran4
  1. Department of Economics, Emory University, 1602 Fishburne Drive, Atlanta, GA 30322, USA
  2. Goizueta Business School, Emory University, Atlanta, GA 30322, USA
  3. Department of Psychology, New School for Social Research, 80 Fifth Avenue, New York, NY 10011, USA
  4. Institut Jean Nicod, CNRS-Ecole Normale Supérieure, 29, Rue d'Ulum, 75005 Paris, France
Philosophical Transactions of the Royal Society B 5 March 2012 vol.367 no.1589 754-762

Akses : DOI:10.1098/rstb.2011.0262

The biology of cultural conflict

Gregory S. Berns1 dan Scott Atran2
  1. Center for Neuropolicy, Emory University, Atlanta, GA 30322, USA
  2. CNRS-Ecole Normale Supérieure, Institut Jean Nicod, 29, Rue d'Ulm, 75005 Paris, France
Philosophical Transactions of the Royal Society B 5 March 2012, vol.367 no.1589 633-639

Akses : DOI:10.1098/rstb.2011.0307
Gregory Berns http://www.ccnl.emory.edu/greg/

Gambar : Emory University

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment