Pages

Kepunahan Akhir Cretaceous Butuh Hipotesis Alternatif

Jurnal KeSimpulan.com - Di akhir Cretaceous sekitar 65 juta tahun lalu, sebuah asteroid memukul Semenanjung Yucatan Meksiko yang menyebabkan kepunahan parah namun selektif.

Kegelapan global karena Sinar Matahari terhalang awan menganggu fotosintesis di dasar rantai makanan, radiasi merusak ozon, pemanasan global atau pendinginan, dan pengasaman laut.

Berbagai hipotesis diterima secara luas fokus pada runtuhnya produktivitas primer dan sekunder di lautan.

Salah satu hipotesis yaitu "Strangelove Ocean" atau "Living Ocean".

Namun para ilmuwan menyimpulkan produktivitas menurun moderat, regional, dan tidak cukup untuk menjelaskan kepunahan massal laut.

"Salah satu tantangan utama adalah mendapatkan spesimen foraminiferal bentik untuk analisis statistik secara valid," kata Ellen Thomas, geoklimatolog Yale University.

"Di laut dalam, tidak ada cahaya dan tidak ada fotosintesis. Oleh karena itu, hampir semua makanan harus datang dari permukaan, hanya persentase sangat kecil bahan utama yang diproduksi alga uniseluler pernah mencapai dasar laut," kata Thomas.

Foraminifera bentik laut dan organisme laut lainnya hidup di mana faktor pembatas kehidupan adalah makanan. Ini menyiratkan sampel lantai laut secara dramatis kalah banyak dengan cangkang kerabat mereka yang hidup mengambang di permukaan air diterangi Matahari. Lalu kerang jatuh ke dasar laut.

"Kita perlu mengumpulkan setidaknya 300 spesimen penghuni per sampel yang membutuhkan banyak waktu di belakang mikroskop," kata Thomas.

Thomas mengkritik runtuhnya produktivitas primer di permukaan air seperti yang diusulkan dalam hipotesis Strangelove Ocean atau produktivitas di dasar perairan seperti yang diusulkan oleh hipotesis Living Ocean.

"Gangguan pasokan makanan harus memiliki pengaruh serius pada penghuni bawah bahkan terhadap perubahan musiman dalam pasokan makanan. Namun, kami tidak melihat itu. Sebaliknya, penghuni bawah tidak punah, mereka harus memiliki akses makanan," kata Thomas.

Laia Alegret, paleontolog Universidad Zaragoza mencatat beberapa wilayah misalnya Samudera Pasifik mengalami peningkatan suplai makanan ke dasar laut.

"Tidak cocok dengan kedua hipotesis Strangelove Ocean dan Living Ocean," kata Alegret.

Para ilmuwan menunjukkan temuan mereka mempengaruhi area lain penelitian seperti paleobiologi untuk mengevaluasi efek meningkatnya kadar karbon dioksida di atmosfer.

"Jika kita ingin memprediksi masa depan dampak pengasaman lautan pada hari ini, kita harus memahami pengasaman terakhir, misalnya membandingkan pengasaman dipicu oleh dampak akhir Cretaceous 65 juta tahun lalu dengan pengasaman jauh lebih lambat selama pemanasan ekstrim yang terjadi 55 juta tahun lalu di akhir kepunahan Paleosen," kata Alegret.
End-Cretaceous marine mass extinction not caused by productivity collapse

Laia Alegret1,2, Ellen Thomas3,4 dan Kyger C Lohmann5
  1. Departamento de Ciencias de la Tierra, Universidad Zaragoza, 50009 Zaragoza, Spain
  2. Instituto Universitario de Investigación en Ciencias Ambientales de Aragón, Universidad Zaragoza, 50009 Zaragoza, Spain
  3. Department of Geology and Geophysics, Yale University, New Haven, CT 06520-8109
  4. Department of Earth and Environmental Sciences, Wesleyan University, Middletown, CT 06459
  5. Department of Geological Sciences, University of Michigan, Ann Arbor, MI 48109-1063
PNAS, January 17, 2012 vol.109 no.3 728-732

Akses : DOI:10.1073/pnas.1110601109

Genetic evidence for patrilocal mating behavior among Neandertal groups

E. Ramirez-Llodra1 et.al.
  1. Institut de Ciències del Mar, CSIC. Passeig Marítim de la Barceloneta 37-49, 08003 Barcelona, Spain
Biogeosciences, 7, 2851-2899, 2010

Akses : DOI:10.5194/bg-7-2851-2010
Ellen Thomas http://climate.yale.edu/people/ellen-thomas
Laia Alegret http://wzar.unizar.es/acad/fac/geolo/directorio/alegret.htm

Gambar : Ron Blakey (dalam En Wikipedia)

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment