Pages

Indonesia Bisa Dibayar US$5 Milyar dari 1 Milyar Ton CO2

Jurnal KeSimpulan.com - Indonesia bisa memperoleh tunai US$5 milyar dan mencegah 1 miliar ton emisi karbon dioksida antara 2000 dan 2005 sesuai perhitungan REED+.

Arief A. Yusuf dari Universitas Padjadjaran, Muhammad Farid dari Conservation International, dan rekan menggunakan model ekonomi untuk memperkirakan pengurangan emisi dan potensi pendapatan di bawah kebijakan program Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD+).

Mereka membandingkan 3 pendekatan dalam implementasi kebijakan penggurangan pengundulan hutan di bawah REED+.

Pertama, menerapkan seluruh sistem di Indonesia dengan bayaran internasional US$10/ton karbon dioksida

Kedua, pembayaran situs per situs ekosistem yang hanya mengurangi emisi 310 juta ton CO2. Pendekatan sangat berisiko "kebocoran" atau perpindahan deforestasi dari daerah ke daerah lainnya.

Ketiga, sistem sukarela dengan berbagi tanggung jawab dan bayaran secara nasional dan subnasional ke kabupaten atau provinsi.

"Kami menemukan pilihan pendekatan kebijakan REDD + di Indonesia sangat mempengaruhi tingkat dan efektivitas pengurangan gas rumah kaca, distribusi biaya dan manfaat bagi negeri ini," kata Jonah Busch dari Conservation International.

"Menggunakan insentif memiliki perbedaan pengurangan emisi secara nasional menjadi 8% dengan US$6,2 milyar dan 26% dengan US$1 miliar. Pendekatan kedua menjadi 22% dengan hanya US$330 juta."

Indonesia saat ini mengembangkan strategi pendekatan pertama di bawah komitmen Presiden SBY untuk mengurangi emisi gas rumah kaca setidaknya 26% dari baseline proyeksi 2020.

Target pengurangan emisi naik menjadi 41% dengan dukungan internasional sangat tergantung pada penggurangan degradasi lahan gambut, deforestasi, dan pengundulan hutan primer padat karbon.

Sebagai langkah pertama, Indonesia tahun lalu menerapkan moratorium 2 tahun konsesi kehutanan baru di lahan gambut dan hutan primer. Resistensi tetap kuat terutama pemilik kepentingan di sektor kehutanan yang terbukti melemahkan moratorium. Namun demikian ada tanda-tanda kemajuan baru-baru ini ketika Presiden SBY menegaskan kembali komitmen iklim.
Structuring economic incentives to reduce emissions from deforestation within Indonesia

Jonah Busch1, Ruben N. Lubowski2, Fabiano Godoy1, Marc Steininger1, Arief A. Yusuf3, Kemen Austin4, Jenny Hewson1, Daniel Juhn1, Muhammad Farid5 dan Frederick Boltz6
  1. Science and Knowledge Division, Conservation International, Arlington, VA 22202
  2. International Climate Program, Environmental Defense Fund, Washington, DC 20009
  3. Department of Economics, Padjadjaran University, Bandung 40115, Indonesia
  4. People and Ecosystems Program, World Resources Institute, Washington, DC 20002
  5. Asia-Pacific Field Division, Conservation International, Jakarta 12550, Indonesia
  6. Global Initiatives, Conservation International, Arlington, VA 22202
PNAS January 9, 2012

Akses : DOI:10.1073/pnas.1109034109
Jonah Busch http://www.conservation.org/osiris

Gambar : AFP/Getty Images

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment