Pages

Hormon Oksitosin Lebih Prososial Dibanding Propahala

Jurnal KeSimpulan.com - Bau 'hormon cinta' membantu monyet menunjukkan sedikit kebaikan. Semprotan hormon oksitosin membuat monyet lebih pro-sosial dibanding pro-pahala.

Oksitosin adalah "hormon cinta" yang membangun ikatan emosional ibu-bayi dan membantu kita merasa lebih terhubung satu sama lain, juga bisa membuat para monyet bermuka masam memperlakukan satu sama lain sedikit lebih baik.

Tim Duke University mendemostrasikan peran hormon sengau seperti masker gas.

Semprotan oksitosin membuat Monyet Rhesus lebih memperhatikan satu sama lain.

Suatu pilihan yang memberi monyet lain menyemprotkan jus buah, bahkan ketika mereka tidak kebagian.

Dua Rhesus (Macaca mulatta) duduk di samping satu sama lain dan dilatih memilih simbol di layar yang mewakili jus untuk diri sendiri, memberikan jus ke rekan lain, atau tidak membagikan jus sama sekali.

Dalam pengulangan tes, mereka dihadapkan pada 3 dengan 2 pilihan di suatu waktu. Hadiah untuk diri vs pahala, hadiah untuk diri sendiri vs pahala untuk orang lain, dan hadiah untuk orang lain vs pahala. untuk diri sendiri.

"Aroma oksitosin mengingkatkan pilihan 'prososial' monyet, mungkin membuat mereka lebih peduli kepada individu lainnya," kata Michael Platt, neurosaintis Duke Institute for Brain Sciences.

"Jika benar, ini sangat keren karena menunjukkan oksitosin mengurai hambatan sosial yang normal," kata Platt.

Sebelumnya Platt dan tim telah menunjukkan Rhesus lebih suka memberi hadiah untuk monyet lain ketika ada alternatif pahala bagi siapa pun, sebuah konsep disebut "pahala perwakilan."

Studi terbaru menunjukkan penguatan nyata dalam pahala perwakilan setelah setengah jam setelah terpapar oksitosin. Menariknya, untuk setengah jam pertama, monyet lebih mungkin mencari pahala untuk dirinya sendiri.

Tim juga melacak gerakan mata monyet. Biasanya setelah membuat pilihan prososial, mereka akan beralih pandangan mereka ke monyet lainnya. Di bawah pengaruh oksitosin, tatapan bertahan sedikit lebih lama ketika membuat pilihan.

Hormon saat ini sedang diuji sebagai terapi autisme, skizofrenia dan gangguan lain yang ditandai kurangnya kepedulian kepada orang lain, kata Platt. Tampaknya keterampilan sosial pasien menjadi lebih baik, tapi tidak ada bukti efek konsisten dalam jangka panjang.

"Kami membuat inhalasi dengan menggunakan nebulizer. Ini mungkin jauh lebih baik bagi anak-anak autisme atau gangguan terkait dengan semprotan hormon ke hidung yang khas dan mungkin lebih efektif."

"Memahami bagaimana oksitosin bekerja di otak, tindakan, dan konsekuensi jangka panjang tidak dapat dilakukan pada manusia. Sedangkan hewan model terlalu jauh terkait perilaku dan neurologis untuk memberi banyak data."
Inhaled oxytocin amplifies both vicarious reinforcement and self reinforcement in rhesus macaques (Macaca mulatta)

Steve W. C. Chang1,2, Joseph W. Barter2, R. Becket Ebitz1,2, Karli K. Watson1,2, dan Michael L. Platt1,2,3,4
  1. Department of Neurobiology, Duke University School of Medicine, Durham, NC 27701
  2. Center for Cognitive Neuroscience and Departments of
  3. Evolutionary Anthropology
  4. Psychology and Neuroscience, Duke University, Durham, NC 27708
PNAS January 3, 2012

Akses : DOI:10.1073/pnas.1114621109
Michael Platt http://www.dibs.duke.edu/research/profiles/7-michael-platt

Artikel Lainnya: