Pages

Protein Semenogelins Sperma Tingkatkan Infektivitas HIV

Jurnal KeSimpulan.com - Protein semen sperma meningkatkan transmisi HIV. Para peneliti mengidentifikasi protein di air mani meningkatkan infektivitas HIV.

Sebuah protein dalam sperma membuat HIV lebih mudah menginfeksi sel kekebalan tubuh. Protein disebut semenogelins (SEMs) berlimpah dalam air mani dan membawa muatan positif yang membawa virus HIV bermuatan negatif. Demikian laporan para peneliti ke Cell Host & Microbe.

"Bagian unik penelitian ini, mereka mengidentifikasi peningkatan infeksi," kata Charu Kaushic, imunolog McMaster University.

"Secara teknis, laporan sangat padat, tapi apakah benar-benar terjadi dalam saluran vagina pasca ejakulasi? Saya tidak yakin apakah ini fisiologis yang relevan," kata Kaushic.

Penelitian ini menindaklanjuti laporan tahun 2007 di Cell yang mengidentifikasi protein mani bermuatan positif disebut SEVI (semen-derived enhancer of virus infection) pendorong infektivitas HIV.

Warner Greene, direktur Gladstone Institute of Virology and Immunology, membuat screen tambahan air mani apakah menemukan protein bermuatan positif lain yang bertindak sama.

Benar saja, screen mengungkap berbagai SEMs yang masing-masing membawa muatan positif. Tapi lebih mengejutkan seperti SEVI, protein berubah bentuk menjadi struktur "panjang dan tipis seperti jarum" dikenal sebagai amyloid fibrils.

"Belum pernah ditemukan terjadi di sini," kata Greene.

Greene dan rekan berbudaya HIV dengan T-sel dan melihat peningkatan infeksi di hadapan fibril SEMs. Demikian pula tingkat infektivitas HIV berkorelasi dengan tingkat SEMs.

"Fibril membantu menetralkan muatan negatif dan seperti lem memungkinkan virus melekat pada sel target dengan efisiensi sangat tinggi," kata Greene.

Perubahan infektivitas hanya terlihat pada SEMs dengan struktur fibril yang mengkonfigurasi ulang selama jendela singkat sebelum air mani mencair sehingga peneliti lain melihat skeptis.

"Kekhawatiran saya setelah ejakulasi dalam saluran reproduksi wanita, air mani mencair sangat cepat. Apakah cukup waktu membentuk fibril ini?" kata Kauschic.

Davey Smith, virulog University of California San Diego, ingin melihat hasil penelitian jika dilakukan di lingkungan pH air mani. Semen sedikit basa tetapi saluran vagina memiliki pH asam (rendah).

"Semua laporan ini dilakukan pada pH netral dan infektivitas HIV tidak terjadi pada pH netral. Kita selalu melakukan beberapa hal bekerja in vitro dan itu bukan hal yang sama Anda lihat dalam hal transmisi," kata Smith.

Greene berencana tes di kera rhesus untuk menguji bagaimana SEMs mempengaruhi transmisi secara lebih alami. Jika terbukti maka harapan tinggi untuk aplikasi.

"Blocker atau disassemblers fibril dapat digunakan sebagai komponen mikrobisida untuk melindungi terhadap HIV. Kombinasi enhancer protein air mani bisa menghasilkan mikrobisida jauh lebih efektif dan sangat penting bagi wanita," kata Greene.
Peptides Released by Physiological Cleavage of Semen Coagulum Proteins Form Amyloids that Enhance HIV Infection

Nadia R. Roan1, Janis A. Müller4, Haichuan Liu6, Simon Chu1, Franziska Arnold4, Christina M. Stürzel4, Paul Walther5, Ming Dong7, H. Ewa Witkowska6, Frank Kirchhoff4, Jan Münch4, Warner C. Greene1,2,3
  1. Gladstone Institute of Virology and Immunology, University of California, San Francisco, CA 94158, USA
  2. Department of Medicine, University of California, San Francisco, CA 94158, USA
  3. Department of Microbiology and Immunology, 1650 Owens Street, San Francisco, CA 94158, USA
  4. Institute of Molecular Virology, Ulm University, 89081 Ulm, Germany
  5. Central Electron Microscopy Facility, Ulm University, 89081 Ulm, Germany
  6. UCSF Sandler-Moore Mass Spectrometry Facility, University of California, San Francisco, CA 94143, USA
  7. Lawrence Berkeley National Laboratory, Berkeley, CA 94720, USA
Cell Host & Microbe, Volume 10, Issue 6, 541-550, 15 December 2011

Akses : DOI:10.1016/j.chom.2011.10.010

Genetic evidence for patrilocal mating behavior among Neandertal groups

Jan Münch1, Elke Rücker1, Ludger Ständker2,3, Knut Adermann2,3,4, Christine Goffinet5, Michael Schindler1, Steffen Wildum1, Raghavan Chinnadurai1, Devi Rajan1, Anke Specht1, Guillermo Giménez-Gallego6, Pedro Cuevas Sánchez7, Douglas M. Fowler8, Atanas Koulov8, Jeffery W. Kelly8, Walther Mothes9, Jean-Charles Grivel10, Leonid Margolis10, Oliver T. Keppler5, Wolf-Georg Forssmann2,3, dan Frank Kirchhoff1
  1. Institute of Virology, University Clinic of Ulm, 89081 Ulm, Germany
  2. IPF PharmaCeuticals GmbH, 30625 Hannover, Germany
  3. Hannover Medical School, Center of Pharmacology, 30625 Hannover, Germany
  4. VIRO Pharmaceuticals GmbH & Co. KG, 30625 Hannover, Germany
  5. Department of Virology, University of Heidelberg, 69120 Heidelberg, Germany
  6. Centro de Investigaciones Biológicas (CIB/CSIC), Madrid 28040, Spain
  7. Hospital Ramón y Cajal, Madrid 28034, Spain
  8. Department of Chemistry and the Skaggs Institute of Chemical Biology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, USA
  9. Section of Microbial Pathogenesis, Yale University School of Medicine, New Haven, CT 06536, USA
  10. National Institute of Child Health and Human Development, Bethesda, MD 20892, USA
Cell, Volume 131, Issue 6, 1059-1071, 14 December 2007

Akses : DOI:10.1016/j.cell.2007.10.014
Charu Kaushic http://fhs.mcmaster.ca/mcmasterimmunologyresearchcentre/kaushic_charu.html
Warner Greene http://www.gladstone.ucsf.edu/gladstone/site/greene/
Davey Smith http://id.ucsd.edu/faculty/smith.shtml

Gambar : Nadia R. Roan et.al., Cell Host & Microbe, DOI:10.1016/j.chom.2011.10.010

Artikel Lainnya: