Pages

Asosiasi Suara Simpanse Mirip Synaesthesia Manusia

Jurnal KeSimpulan.com - Otak Simpanse mungkin memiliki hardware untuk evolusi bahasa meskipun tidak bisa bicara. Asosiasi suara Simpanse mirip sinestesia manusia.

Suatu asosiasi persepsi bisa membantu menjelaskan bagaimana nenek moyang awal kita mengambil langkah penting pertama dari kera memproduksi kosakata secara tepat.

Synaesthetes membuat koneksi di antara indera yang berbeda seperti melihat musik atau mendengar warna. Ini tidak biasa pada manusia.

"Pengalaman synaesthetic adalah sebuah kontinum," kata Roi Cohen Kadosh, kognisian University College London.

"Kebanyakan orang memiliki pada tingkat implisit dan beberapa orang memiliki hubungan lebih kuat," kata Kadosh.

Vera Ludwig, psikobiolog dari Charite University of Medicine di Berlin, Jerman, dan rekan menunjukkan pertama kali Simpanse (Pan troglodytes) juga membuat cross-sensory associations yang menunjukkan evolusi sejak dini.

Ludwig menampilkan kotak hitam atau putih berkelebat di layar selama 200 milidetik di depan 6 simpanse dan 33 manusia. Subyek harus menunjukkan hitam atau putih dengan menyentuh tombol warna secara tepat.

Sebuah suara bernada tinggi atau rendah secara acak dimainkan sebagai latar belakang selama masing-masing tes.

Simpanse dan manusia lebih baik dalam mengidentifikasi kotak putih ketika mendengar nada suara tinggi dan lebih mungkin benar mengidentifikasi kotak gelap ketika nada suara rendah.

Tapi kinerja buruk ketika bertukar suara. Manusia lebih lambat mengidentifikasi persegi putih dipasangkan suara bernada rendah atau persegi hitam dengan suara bernada tinggi. Simpanse secara signifikan tidak akurat.

"Eksperimen ini menunjukkan tidak ada similaritas antara suara dan penglihatan yang bisa membantu memulainya," kata Ramachandran.

Temuan ini menambah bukti hupotesis cross-sensory associations bersifat bawaan (tidak dipelajari) yang pertama kali diteliti V.S. Ramachandran, neurosaintis University of California di San Diego. Asosiasi bawaan memainkan peran penting dalam evolusi bahasa.

"Jika dua individu berpikir sebuah kata mengandung vokal bernada tinggi cocok dengan objek ringan maka lebih mudah bagi mereka mengembangkan kosa kata umum dan memahami kata-kata lain yang digunakan," kata Ludwig.

Jadi kenapa simpanse tidak bicara? Crosstalk antar indra mungkin hanya salah satu bagian dari toolkit evolusi, kata Morten Christiansen, kognisian Cornell University di Ithaca, New York.

Fitur lain manusia tidak berbagi dengan sesama primata termasuk unggul urutan pengolahan kemampuan yang membantu nenek moyang kita mengembangkan orasi ketika simpanse tidak bisa melakukannya.
Visuoauditory mappings between high luminance and high pitch are shared by chimpanzees (Pan troglodytes) and humans

Vera U. Ludwig1,2,3, Ikuma Adachi4, and Tetsuro Matsuzawa4
  1. Department of Psychiatry and Psychotherapy, Charité - Universitätsmedizin Berlin, D-10117 Berlin, Germany
  2. Berlin School of Mind and Brain, Humboldt-Universität zu Berlin, D-10117 Berlin, Germany
  3. Department of Psychology, Humboldt-Universität zu Berlin, D-12489 Berlin, Germany
  4. Primate Research Institute, Kyoto University, Inuyama, Aichi 484-8506, Japan
PNAS December 5, 2011

Akses : DOI:10.1073/pnas.1112605108
Roi Cohen Kadosh http://www.icn.ucl.ac.uk/
Vera Ludwig Charite http://mindandbrain.charite.de/en/people/vera_ludwig/
VS Ramachandran http://cbc.ucsd.edu/ramabio.html
Morten Christiansen http://www.psych.cornell.edu/people/Faculty/mhc27.html

Artikel Lainnya: