Pages

Asal-usul Domestikasi Serigala Jadi Anjing di China

Jurnal KeSimpulan.com - Anjing ada di mana-mana tapi dari mana asal-usul mereka? Data baru menulis kisah asal-usul domestikasi anjing berteman dengan mansia.

Kebanyakan peneliti sependapat anjing keturunan serigala, tetapi mereka berdebat sengit kapan dan di mana manusia dan anjing pertama menjadi teman terbaik.

Dua penelitian baru domestikasi anjing di Sungai Yangtze, China selatan, 16.000 tahun lalu.

Lokasi bertentangan hasil penelitian tahun lalu yang menunjukkan anjing berasal dari Timur Tengah.

Catatan fosil belum banyak membantu merekonstruksi sejarah anjing. Jadi genetikawan berpaling pada DNA.

"Saya tidak yakin," kata Greger Larson, bioevolusionis Durham University di Inggris.

Tahun 2002, Peter Savolainen, genetikawan KTH Royal Institute of Technology di Stockholm, dan rekan menganalisis DNA mitokondria (hanya diwariskan ibu) 38 serigala dan lebih dari 500 anjing di seluruh dunia menyimpulkan anjing didomestikasi di Asia Timur dan hanya sekali.

Tahun 2010, tim peneliti lain menganalisis perbedaan single base seluruh DNA nuklir menyimpulkan bukan di Asia Timur tetapi Timur Tengah.

Sekarang Savolainen mengkonfirmasi hasil sebelumnya dengan melihat bagian genom anjing yaitu kromosom Y (hanya diwarsikan laki-laki). Mereka sequencing 14.000 base kromosom Y dari 151 anjing, 10 serigala, dan e coyote dari seluruh dunia.

Anjing berasal dari sejumlah besar serigala yang peliharaan di selatan Sungai Yangtze. Sampel DNA anjing dari daerah ini yang memiliki keragaman lebih tinggi dalam kromosom Y dibandingkan dengan sampel Timur Tengah atau Eropa.

Savolainen dan rekan melapor ke Heredity dan Ecology and Evolution.

"Bukti untuk DNA dan kromosom Y cukup menarik menunjuk lokasi tunggal domestikasi," kata Renato Mariani Costantini, patolog University of Chieti-Pescara di Italia.

Tetapi peneliti lain tidak sependapat. Anjing mungkin lebih beragam genetik di tempat lain pada satu waktu, tetapi keragaman kemudian menghilang di daerah tersebut.

"Kromosom Y dan DNA mitokondria hanya mewakili dua set gen. Jauh lebih baik membandingkan gen lebih banyak daerah seperti yang dilakukan oleh tim lain tahun 2010," Pontus Skoglund, genetikawan populasi Uppsala University di Swedia.

Robert Wayne, bioevolusionis University of California di Los Angeles, yang meneliti anjing Timur Tengah mengatakan tidak ada perbedaan cukup dalam kromosom Y untuk benar-benar merekonstruksi sejarah evolusi anjing.

"Pendekatan genomewide kami lebih baik. Lebih kompleks dengan kontribusi genom Timur Tengah, Eropa, dan Asia yang mencerminkan asal-usul dan sejarah perkawinan antara anjing awal dan serigala," kata Wayne.

"Studi gen tunggal atau wilayah tidak mungkin untuk mengungkapkan kompleksitas ini," kata Wayne.
Origins of domestic dog in Southern East Asia is supported by analysis of Y-chromosome DNA

Z-L Ding1,2,7, M Oskarsson3,7, A Ardalan3, H Angleby3, L-G Dahlgren3, C Tepeli4, E Kirkness5, P Savolainen3 and Y-P Zhang1,6
  1. Laboratory for Conservation and Utilization of Bio-resource and Key Laboratory for Microbial Resources of the Ministry of Education, Yunnan University, Kunming, China
  2. Kunming Large-scale Instrument Regional Center of Biodiversity, Kunming Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences, Kunming, China
  3. Department of Gene Technology, KTH-Royal Institute of Technology, Science for Life Laboratory, Solna, Sweden
  4. University of Selcuk, Faculty of Veterinary Medicine, Department of Animal Science, Konya, Turkey
  5. The J Craig Venter Institute, Rockville, MD, USA
  6. Laboratory of Genetic Resources and Evolution, Kunming Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences, Kunming, China
Heredity 23 November 2011

Akses : DOI:10.1038/hdy.2011.114

Comprehensive study of mtDNA among Southwest Asian dogs contradicts independent domestication of wolf, but implies dog-wolf hybridization

Arman Ardalan1,4,6, Cornelya F. C. Kluetsch1, Ai-bing Zhang1, Metin Erdogan2, Mathias Uhlén3, Massoud Houshmand4, Cafer Tepeli5, Seyed Reza Miraei Ashtiani6, Peter Savolainen1
  1. Department of Gene Technology, KTH–Royal Institute of Technology, Science for Life Laboratory, 171 21 Solna, Sweden
  2. Department of Medical Biology and Genetics, Afyon Kocatepe University, 03200 Afyonkarahisar, Turkey
  3. Department of Proteomics, KTH - Royal Institute of Technology, 106 91 Stockholm, Sweden
  4. Department of Medical Biotechnology, National Institute of Genetic Engineering and Biotechnology (NIGEB), 14965/161 Tehran, Iran
  5. Department of Animal Science, Selcuk University, 42031 Konya, Turkey
  6. Department of Animal Science, University of Tehran, 4111 Karaj, Iran
Ecology and Evolution 18 OCT 2011

Akses : DOI:10.1002/ece3.35
Peter Savolainen http://www.biotech.kth.se/genetech/info/savolainen.html
Greger Larson http://www.dur.ac.uk/archaeology/staff/?id=5502
Renato Mariani Costantini http://www.unich.it/injo/mariani.htm
Pontus Skoglundhttp://www.ebc.uu.se/forskning/IEG/evbiol/personal/sidor/Skoglund_Pontus/
Robert Wayne http://www.eeb.ucla.edu/Faculty/Wayne/

Artikel Lainnya: