Pages

Matematika Harus Bisa Deteksi Market Bubbles Saham

Jurnal KeSimpulan.com - Jika balon terus dipompa hingga melebihi daya dukung maka meletus. Matematika harus bisa mendeteksi market bubbles pasar saham sebelum meletus.

Di akhir tahun 90-an dengan moment perumahan sampai dengan krisis 2008, financial bubbles menjadi topik perhatian utama. Mengidentifikasi gelembung menjadi penting untuk mencegah dampak parah bagi ekonomi.

Sebuah analisis oleh Robert Jarrow, Younes Kchia, and Philip Protter di SIAM Journal on Financial Mathematics menekankan pentingnya mengembangkan alat untuk mengidentifikasi dan mengatasi gelembung secara real time.

Gelembung keuangan terjadi ketika aset harga seperti saham naik jauh di atas nilai aktual. Seperti siklus ekonomi biasanya ditandai oleh ekspansi cepat diikuti oleh kontraksi atau penurunan tajam.

"Sulit untuk mengabaikan bahwa gelembung keuangan memainkan peran penting dalam perekonomian dan spekulasi mengenai apakah risiko aset harga mengalami gelembung mendekati level panas. Tetapi gelembung memiliki konsekuensi nyata dan sering negatif," kata Protter.

"Kemampuan untuk mengetahui kapan suatu aktiva dalam gelembung memiliki konsekuensi penting dalam regulasi cadangan modal bank serta bagi investor individu dan dana pensiun pemegang aset jangka panjang."

"Bagi bank, jika modal kepemilikan cadangan mencakup investasi besar dengan nilai-nilai realistis karena gelembung, kejutan bagi bank terjadi ketika gelembung meletus."

"Potensi seperti infamously terjadi pada Lehman Brothers dan saat ini terjadi dengan Dexia, sebuah bank besar Eropa."

Menggunakan matematika canggih, Protter et.al. menjawab pertanyaan apakah kenaikan suatu aset harga tertentu menjadi indikasi gelembung secara real time.

"Kami menggunakan data dan beberapa formula, seseorang dapat mengatakan dengan level kepastian besar apakah aset keuangan (atau kelompok aset) sedang mengalami bubble harga."
How to Detect an Asset Bubble

Robert Jarrow, Younes Kchia, dan Philip Protter

SIAM Journal on Financial Mathematics, 2, pp. 839-865, October 12, 2011

Akses : DOI:10.1137/10079673X

Artikel Lainnya: