Pages

Misteri Warisan Gen Manusia Gua Denisova Yang Hilang

Jurnal KeSimpulan.com - Wilayah luas manusia Asia yang hilang. Denisovan, manusia gua Denisova di Siberia dan sepupu misterius Homo neanderthalensis menjadi teka-teki.

Mereka menempati wilayah membentang dari hamparan dingin Siberia hingga hutan tropis lembab Indonesia. Hal ini menunjukkan manusia generasi ketiga Pleistosen menampilkan adaptasi yang sebelumnya dianggap unik pada manusia modern.

Sekilas pandangan pertama yang menggoda kita tentang Denisovan datang tahun lalu dengan analisis DNA tulang jari dan gigi yang ditemukan di sebuah gua Siberia.

DNA cukup berbeda dengan Neanderthal yang menyarankan puluhan ribu tahun evolusi independen.

Laporan ke Nature menyatakan, sebelum menghilang, Denisovans ditemukan sempat kawin silang dengan Homo sapiens. Namun, 5 persen genom Denisovan diwariskan bukan kepada penduduk Siberia, tetapi populasi di Papua New Guinea yang berjarak ribuan kilometer ke selatan-timur.

"Saya tidak berpikir banyak orang akan memprediksinya," kata Mark Stoneking, bioantropolog dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman.

Laporan Stoneking ke American Journal of Human Genetics membandingkan genom Denisovan dengan 33 populasi tambahan dari daratan Asia, Indonesia, Filipina, Polinesia, Australia dan Papua Nugini. Gen Denisovan ditemukan di Indonesia timur, Australia, Papua Nugini, Fiji dan Polinesia.

Gen Denisovan di Papua Nugini tidak berarti hasil aneh. Sebaliknya, Stoneking melihat Denisovan tinggal di Asia Tenggara dan bahwa kawin silang dengan manusia modern di tempat tersebut.

Jika dikonfirmasi, rentang Denisovan sangat mengejutkan karena berjalan dari utara ke selatan. Bukti genetik menunjukkan lebih sulit untuk bermigrasi utara-selatan dibanding timur-barat, karena iklim dan perubahan ekologi.


"Populasi Denisovan tersebar di zona geografis dan ekologi sangat luas [utara-selatan]. Lebih luas daripada hominin lain selain manusia modern yang lebih luas daripada Neanderthal," kata Stoneking.

"Tampaknya ada sesuatu yang berbeda tentang kemampuan perilaku Denisovan yang memungkinkan mereka mengeksploitasi berbagai lingkungan lebih luas," kata Stoneking.

Harus berhati-hati menggunakan genetika untuk menyimpulkan di mana orang tinggal, kata John Stewart, paleoevolusionaris dari Bournemouth University di Inggris.

Mungkin Denisovans kawin dengan manusia modern di suatu tempat di Asia Tengah dan migrasi kemudian membawa gen ke selatan-timur, kata Stewart. Sisa-sisa fosil Denisovan di Asia selatan-timur dapat membantu untuk verifikasi hipotesis tersebut.

"Ada banyak fosil misterius di Asia Tengah, China dan Asia Tenggara. Tampaknya mungkin beberapa dari mereka Denisovan," kata David Reich, sejarahwan dari Harvard Medical School di Boston.
A test of the influence of continental axes of orientation on patterns of human gene flow

Sohini Ramachandran1,2 dan Noah A. Rosenberg3,4,5
  1. Department of Ecology and Evolutionary Biology, Brown University, Providence, RI
  2. Center for Computational Molecular Biology, Brown University, Providence, RI
  3. Department of Human Genetics, University of Michigan, Ann Arbor, MI
  4. Center for Computational Medicine and Bioinformatics, University of Michigan, Ann Arbor, MI
  5. The Life Sciences Institute, University of Michigan, Ann Arbor, MI
American Journal of Physical Anthropology, 13 SEP 2011

Akses : DOI:10.1002/ajpa.21533

Mark Stoneking http://wwwstaff.eva.mpg.de/~stonekg/
David Reich http://genetics.med.harvard.edu/faculty/reich
John Stewart http://onlineservices.bournemouth.ac.uk/academicstaff/Profile.aspx?staff=jstewart

Artikel Lainnya: