Pages

Archaeopteryx Dipulihkan Sebagai Burung Paling Primitif

Jurnal KeSimpulan.com - Singasana belum final dan nama baik Archaeopteryx nampaknya kembali dipulihkan sebagai 'burung pertama' paling primitif.

Michael Lee, bioevolusionis University of Adelaide dan South Australian Museum bersama Trevor Worthy, taksonomis University of New South Wales, mememulihkan kemuliaan Archaeopteryx di Biology Letters.

Archeopteryx seukuran Murai hidup 150 juta tahun lalu di Bavaria, memiliki bulu dan terbang seperti burung, tetapi memiliki ekor panjang dan gigi bergerigi seperti reptil.

Archaeopteryx secara umum dipandang paling mirip dinosaurus unggas dan nenek moyang burung paling primitif. Tapi Juli lalu Archeopteryx terlempar dari tempatnya bertengger oleh temuan dinosaurus di China yaitu Xiaotingia zhengi yang kecil, tangkas pemakan daging, berbulu dan tulang berongga, serta berlari dengan dua kaki.

Temuan X. zhengi menyebabkan pohon evolusi memindah Archeopteryx dalam kelompok dinosaurus mirip burung seperti Velociraptor Jurassic Park yang juga tenar dan bukan di cabang terpisah yang berevolusi menjadi burung. Archaeopteryx kehilangan tempat mulia dalam evolusi burung."

"Diakui setengah reptil setengah burung ketika pertama kali ditemukan," kata Lee.

Burung terbang mungkin berevolusi lebih dari sekali dan Archeopteryx adalah evolusi konvergen. Ini tidak elegan, namun sejumlah indikator menempatkan Archeopteryx di antara dinosaurus dan unggas.

"Jika Anda menghitung pada dasarnya 50:50."

Metode tradisional pohon evolusioner melihat masing-masing kesamaan ciri dan mencoba menemukan mayoritas. Tapi belum tentu menjadi pendekatan terbaik karena beberapa ciri lebih bisa diandalkan dibanding yang lain.

Tulang belakang cenderung berkembang hanya sekali, tapi warna bulu tertentu berevolusi beberapa kali dan dengan demikian ciri kurang dapat diandalkan untuk membangun pohon evolusioner.

Lee menyebut teknik baru dengan 'maximum-likelihood' untuk membangun pohon evolusioner berdasarkan data genetik dan diterapkan ke data fosil. Teknik ini dapat menentukan variasi laju evolusi dan memberi bobot ekstra ciri yang lebih handal.

"Ini menempatkan kembali bahwa burung pertama miliknya."

Namun Lee mengatakan posisi secara tepat Archeopteryx dalam pohon evolusi sulit untuk dijabarkan karena seluruh fosil terletak di antara dinosaurus dan burung.
Likelihood reinstates Archaeopteryx as a primitive bird

Michael S. Y. Lee1,2 dan Trevor H. Worthy3
  1. South Australian Museum, North Terrace, Adelaide, South Australia 5000, Australia
  2. School of Earth and Environmental Sciences, University of Adelaide, South Australia 5005, Australia
  3. School of Biological, Earth and Environmental Sciences, University of New South Wales, Sydney, New South Wales 2052, Australia
Biology Letters, October 26, 2011

Akses : DOI:10.1098/rsbl.2011.0884
Michael Lee http://www.adelaide.edu.au/directory/michael.s.lee
Trevor Worthy http://www.bees.unsw.edu.au/staff/trevor-worthy

Gambar : Michael Lee

Artikel Lainnya: