Pages

Adaptasi Genetik Kaki Seribu Tetracion di Gua Terisolasi

Jurnal KeSimpulan.com - Dokumentasi spesies-spesies dari dunia gelap memang menyenangkan. Studi genetik Kaki Seribu gua mengungkap populasi terisolasi dan divergensi kuno.

Seperti semua serangga Kaki Seribu, mereka tidak benar-benar memiliki jumlah kaki seribu. Melata merayap ini memakan materi tumbuhan mati dan berbagai remah busuk.

Stephanie Loria, biolog University of the South di Sewanee, dan rekannya melapor ke International Journal of Myriapodology sebagai studi genetik populasi pertama Kaki Seribu gua.

Loria menyoroti tantangan penting dunia konservasi keanekaragaman hayati gua dimana banyak spesies tinggal dalam habitat terisolasi dan memiliki genetik berbeda seperti Tetracion jonesi, Tetracion antraeum, dan Tetracion tennesseensis.

Dataran tinggi Cumberland selatan di Tennessee dan Alabama, Amerika Serikat dikenal kaya fitur gua. Selain itu, memiliki keanekaragaman hayati habitat gua tertinggi di Amerika Utara. Kaki Seribu dari berbagai genus Tetracion hidup di lokasi tersebut.

Kaki Seribu ini bisa tumbuh hingga 8 cm. Seperti banyak yang dilakukan hewan gua dalam gelap, Kaki Seribu Tetracion juga mengurangi pigmentasi dan fungsi mata sebagai respon evolusioner terhadap lingkungan.

Teknik genetika digunakan untuk membandingkan populasi Tetracion dengan spesies lain. Populasi Tetracion umumnya terisolasi satu dengan lainnya sehingga keanekaragman spesies Tetracion sangat tinggi dan menunjukkan bahwa anggota genus ini menyimpang beberapa juta tahun yang lalu.
Molecular phylogeography of the troglobiotic millipede Tetracion Hoffman, 1956 (Diplopoda, Callipodida, Abacionidae)

Stephanie F. Loria1, Kirk S. Zigler1, Julian J. Lewis2
  1. Department of Biology, Sewanee: The University of the South, Sewanee, TN 37383 USA
  2. Cave, Karst & Groundwater Biological Consulting, Borden, IN 47106 USA
International Journal of Myriapodology, 5: 35–48, 11 October 2011

Akses : DOI:10.3897/ijm.5.1891
Gambar : Alan Cressler dalam Stephanie F. Loria et.al., DOI:10.3897/ijm.5.1891

Artikel Lainnya: