Pages

Molekul Peptida Kuno Melawan Bakteri Resisten Modern

Jurnal KeSimpulan.com - Membangkitkan protein kuno potensi antibiotik. Jika obat modern tidak mampu memberi jawaban resistensi mikroba maka hewan kuno mungkin bisa.

Biolog membangkitkan suatu senyawa antimikroba mamalia yang hidup terakhir di Bumi 59 juta tahun lalu ketika mamalia pulih dari kepunahan Cretaceous-Tersier yang menyapu dinosaurus.

Bahkan pada hari ini cukup manjur untuk menghancurkan beberapa patogen manusia modern yang paling merepotkan.

Tahun lalu Infectious Diseases Society of America meluncurkan inisiatif bertujuan menghasilkan 10 antibiotik untuk mengatasi bug resisten multi obat pada tahun 2020.

Menjelajahi pohon kehidupan untuk antibiotik sebuah pendekatan yang efektif karena molekul sangat sederhana, kata Ben Cocks, biolog dari La Trobe University di Bendigo, Australia.

Molekul ditemukan dalam jaringan ikan primitif disebut lamprey dan dilaporkan ke Prosiding National Academy of Sciences (PNAS). Mekanisme mirip dengan bagaimana sistem adaptif kekebalan tubuh ditemukan di vertebrata yang mengenali patogen baru dan digunakan untuk pertempuran masa depan.

Cocks mengatakan perlombaan senjata evolusioner melangkah dengan kembali pada sistem kekebalan tubuh bawaan yang ditemukan di semua tumbuhan dan hewan.

Molekul-molekul sistem kekebalan tubuh bawaan menggunakan kimia sederhana untuk target lipid di membran sel. Mengganggu dan melemahkan membran bakteri atau secara halus mengubah sifat sel-sel sehat host sehingga patogen tidak bisa lagi menyerang.

Tapi ada masalah, hewan dengan molekul sistem kekebalan tubuh bawaan terkuat cenderung memiliki efek toksik pada manusia. Solusi Cocks yaitu mempelajari sistem imun bawaan terbaik yang mungkin kompatibel dengan manusia yaitu kantong Kanguru.

Marsupial Walabi muda lahir pada tahap lebih awal dalam perkembangan mamalia plasenta. Macropus eugenii lahir setelah 26 hari, setara dengan janin 6 minggu manusia. Walabi kecil kemudian merangkak ke dalam kantong ibu untuk tumbuh lebih besar.

"Ini bukan lingkungan yang bersih," kata Cocks.

Bakteri terkait erat dengan super bug manusia di rumah sakit telah ditemukan dalam kantong kanguru. Tapi bayi walabi begitu terbelakang, mereka kekurangan sistem kekebalan tubuh adaptif untuk melawan. Kelangsungan hidup tergantung pada sistem kekebalan tubuh bawaan.

Tim menjelajahi genom walabi dan menemukan gen pengkode 14 cathelicidin peptides, komponen sistem kekebalan tubuh bawaan. Tes laboratorium mengungkap banyak peptida membunuh berbagai patogen tanpa merusak sel manusia.

"Kami pikir form leluhur memiliki aktivitas luas dan khusus," kata Cocks.

Tes lab menunjukkan molekul menghancurkan 6 dari 7 bakteri resisten multi obat dan 10 hingga 30 kali lebih kuat dibanding antibiotik modern tetracycline, tim melapor ke PLoS One.

"Ini benar-benar signifikan. Sekarang kita memiliki akses peptida kuno untuk pengembangan obat masa depan," kata Cocks.

Damian Dowling, bioevolusionaris dari Monash University di Melbourne, mengatakan beberapa peptida kuno dan punah mungkin lebih efektif dibanding makhluk hidup karena bakteri belum terekspos selama jutaan tahun.

"Bahkan jika bakteri mengembangkan resistansi terhadap peptida, itu mungkin telah hilang," kata Dowling.
Squalamine as a broad-spectrum systemic antiviral agent with therapeutic potential

Michael Zasloff1 et.al.
  1. Transplant Institute, Departments of Surgery and Biochemistry and Molecular and Cell Biology, Georgetown University Medical Center, Washington, DC 20007
PNAS September 20, 2011 vol. 108 no. 38 15978-15983

Akses : DOI:10.1073/pnas.1108558108

Ancient Antimicrobial Peptides Kill Antibiotic-Resistant Pathogens: Australian Mammals Provide New Options

Jianghui Wang1 et.al.
  1. Biosciences Research Division, Department of Primary Industries, Bundoora, Australia
PLoS ONE 6(8): e24030, August 30, 2011

Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0024030
Ben Cocks http://www.latrobe.edu.au/agribio/research/staff.html
Damian Dowling http://www.biolsci.monash.edu.au/staff/fellows/dowling/
Infectious Diseases Society of America http://www.idsociety.org

Gambar : Jianghui Wang, et.al., DOI:10.1371/journal.pone.0024030.g001

Artikel Lainnya: