Pages

Terapi Modifikasi Sel T Target Protein CD19 Sel Kanker Leukemia

Jurnal KeSimpulan.com - Terapi sel GM melawan leukemia. Pertama kalinya setelah upaya 20 tahun terapi modifikasi gen sel-T berhasil menghancurkan tumor kanker leukemia.

Penargetan sel-sel reseptor kekebalan terhadap kanker. Dua minggu setelah menerima terapi eksperimental untuk kanker, pasien David Porter, onkolog dari University of Pennsylvania Medical Center di Philadelphia, tampaknya memburuk. Kelelahan, demam, suhu lebih dari 39oC, gemetar, mual dan diare.

Bukannya kegagalan klinis tetapi riuh di rumah sakit membahas keberhasilan pada pasien stadium parah chronic lymphocytic leukaemia (CLL) tersebut. Lebih dari satu kilogram sel-sel leukemia diserang oleh sel-sel kekebalan rekayasa genetika T-cells.

"Saya yakin ada perang. Seminggu kemudian saya mendapat kabar sumsum tulang benar-benar bebas dari penyakit," kata pasien yang diminta untuk tetap anonim dalam wawancara kepada wartawan.

Hasil yang dramatis dari tiga pasien yang dilaporkan ke New England Journal of Medicine dan Science Translational Medicine adalah salah satu keberhasilan pertama terapi yang lama diupayakan berdasarkan pada pemrograman ulang sel-sel kekebalan. Metode memanfaatkan kemampuan mematikan sel-T.

Porter dan rekan-rekannya, termasuk Carl June, imunolog yang merekayasa sel-T untuk mengenali protein yang disebut CD19 pada permukaan sel kanker seperti halnya pada sel-sel kekebalan tubuh normal yang disebut sel-B.

Para peneliti telah lama berusaha membunuh kanker dengan sel-T yang mengandung "chimeric antigen receptors", namun hasil awal mengecewakan. Kemudian, tahun lalu diguncang laporan 2 kematian pasien dalam uji klinis terapi serupa. Para advokat mengatakan hasil Porter akan memicu kebangkitan kembali.

"Temuan ini sangat menggembirakan. Benar-benar bidang ini kecil namun tumbuh peneliti kanker yang percaya bahwa sel adalah obat yang cerdas," kata Michel Sadelain, peneliti kanker dari Memorial Sloan-Kettering Cancer Center di New York.

Sel mungkin cerdas, namun para peneliti harus berjuang memanfaatkan kecerdasan untuk melawan kanker. Upaya awal para insinyur sel-T dengan reseptor antigen chimeric gagal membujuk sel berkembang biak dalam tubuh. Akibatnya, sel-sel modifikasi segera mati.

"Kami menempatkan kunci ke permukaan T-sel yang hanya cocok dengan kunci sel-sel kanker," kata Michael Kalos, peneliti kankaer dari University of Pennsylvania's Perelman School of Medicine.

Porter adalah salah satu yang pertama melaporkan hasil generasi reseptor chimeric yang mencakup antibodi untuk menargetkan kanker dan bagian dari reseptor yang menguatkan respon sel-T. Kali ini, sel-T berproliferasi mengobati lebih dari 1.000 kali lipat dalam tubuh dan masih pada level tinggi setelah enam bulan terapi.

Dua pasien di remisi lengkap dan ketiga menunjukkan respon parsial. Terapi memproduksi antibodi sel-B juga, tetapi pasien diberi infus antibodi teratur untuk mengkompensasi hal ini, kata Porter.

Laboratorium lain juga melaporkan sukses dengan generasi reseptor. Tahun lalu, tim Steven Rosenberg dari National Cancer Institute (NCI) di Bethesda, Maryland, melaporkan kasus serupa yaitu seseorang dengan limfoma diberi sel-T modifikasi mengalami remisi parsial.

Pasien, mulai dirawat pada tahun 2009, menerima terapi kedua di bulan Maret 2010 dan masih memiliki respon luar biasa, kata Rosenberg.

Tim Rosenberg merawat 6 pasien dengan limfoma atau leukemia, dan NCI berencana untuk mensponsori uji reseptor antigen chimeric melawan kanker pankreas, tumor otak yang disebut glioblastomas dan kanker paru-paru langka yang disebut mesothelioma.

Sementara itu, hasil uji coba Sadelain dengan sel-T diberikan pada 9 pasien yang dijadwalkan akan segera dilaporkan. Kemudian Robert Hawkins, peneliti kanker di University of Manchester di Inggris, mengatakan timnya sedang melawan CD19 yang mulai menunjukkan hasil.

Semua eksperimen ini adalah kecil meskipun menjanjikan, masih perlu untuk mengatasi dengan potensi toksisitas, kata Walter Urba, onkolog dari Providence Cancer Center di Portland, Oregon.

"Salah satu pertanyaan besar adalah seberapa gigih sel-T terus bekerja dan mencegah tumor yang datang kembali," kata Urba.

Bagaimanapun kematian 2 pasien uji klinis dan 4 uji coba ditunda membuat US Food and Drug Administration mengadakan pertemuan untuk membahas perlunya langkah-langkah keamanan tambahan.

"Ini benar-benar mengatur kembali. Tapi hasil akhir-akhir ini berita besar," kata John Maher, imunologi klinis dari King College London.
Chimeric Antigen Receptor-Modified T Cells in Chronic Lymphoid Leukemia

David L. Porter1,2 et.al.
  1. Abramson Cancer Center, University of Pennsylvania, Philadelphia, PA 19104, USA
  2. Department of Medicine, University of Pennsylvania, Philadelphia, PA 19104, USA
New England Journal of Medicine, August 10, 2011

Akses : DOI:10.1056/NEJMoa1103849

T Cells with Chimeric Antigen Receptors Have Potent Antitumor Effects and Can Establish Memory in Patients with Advanced Leukemia

Michael Kalos 1,2 et.al.
  1. Abramson Cancer Center, University of Pennsylvania, Philadelphia, PA 19104, USA
  2. Department of Pathology and Laboratory Medicine, University of Pennsylvania, Philadelphia, PA 19104, USA
Science Translational Medicine, 10 August 2011

Akses : DOI:10.1126/scitranslmed.3002842
David Porter http://www.med.upenn.edu/apps/faculty/index.php/g348/p4492
Michel Sadelain http://www.mskcc.org/prg/prg/bios/366.cfm
Michael Kalos http://www.med.upenn.edu/
Steven Rosenberg http://ccr.cancer.gov/staff/staff.asp?profileid=5757
Walter Urba http://oregon.providence.org/
John Maher http://rg.kcl.ac.uk/staffprofiles/staffprofile.php?pid=1634

Gambar : Michael Kalos et.al., Sceince, DOI:10.1126/scitranslmed.3002842

Artikel Lainnya: