Pages

Persahabatan Gajah Asia Sri Lanka Elephas maximus maximus

Jurnal KeSimpulan.com - Gajah Asia lebih sosial. Gajah Asia perempuan menjalin persahabatan erat dan membangun koseksi luar dalam kehidupan sosial yang dinamis.

Gajah Asia telah lama dianggap agak antisosial, tidak hidup dalam jumlah besar yang erat seperti halnya gajah perempuan di savana Afrika. Di Asia diperkirakan hanya memiliki kelompok kecil pertemanan dan hanya sedikit koneksi ke luar.

Namun studi baru menunjukkan Gajah Asia perempuan dengan banyak teman dan mampu mempertahankan persahabatan kuat bahkan dengan gajah lain yang telah berpisah lebih dari satu tahun. Studi menempatkan Gajah Asia ke daftar spesies termasuk lumba-lumba yang mampu mempertahankan hubungan sosial kompleks yang menuntut kemampuan kognitif.

"Orang-orang menilai mereka bersosialisasi berdasarkan apa yang mereka lihat di penangkaran," kata Shermin de Silva, ekologi behavioral dari Elephant, Forest and Environment Conservation Trust di Kolombo, Sri Lanka.

Karena Gajah Asia menghuni hutan lebat, jadi peneliti harus memanjat pohon-pohon tinggi atau mengamati ketika gajah berkumpul di danau. Tapi 30 tahun yang lalu, populasi Gajah Asia di Sri Lanka (Elephas maximus maximus) kehilangan rumah hutannya. Pembabatan hutan menjadi perkebunan jati dan sungai utama dibendung untuk waduk Udawalawe.

Tahun 1972, sekitar 308 kilometer persegi di sekitar waduk dibuat Udawalawe National Park. Sekarang 800-1200 gajah tinggal di taman yang menyerupai sebuah savana Afrika Timur. Lanskap terbuka memungkinkan de Silva mengidentifikasi 286 gajah perempuan dewasa indvidu dan melapor ke BMC Ecology.

Para peneliti melacak hubungan sosial 51 gajah selama 2 tahun. de Silva menyadari gajah memiliki jaringan sosial yang lebih besar dari anggapan sebelumnya. Perempuan dewasa bercengkerama bersama-sama pada suatu hari dengan individu lainnya yang selalu baru.

Pandangan umum mengatakan Gajah Asia biasanya hanya memiliki tiga teman dan hubungan longgar dengan individu lain sehingga menyiratkan sebuah struktur sosial yang tidak stabil.

"Tapi kami menemukan mereka dapat memiliki 10 atau lebih persahabatan, beberapa bahkan memiliki 50 teman," kata de Silva.

Persahabatan ini bukan acak. Para ilmuwan mengidentifikasi gajah '"teman" atau "sahabat" dalam radius 500 meter satu sama lain yang bergerak, beristirahat, atau berbagi. Gajah perempuan lebih cenderung menjadi sahabat setia. Bagaimana faktor genetik gajah dewasa ini tidak diketahui tapi para peneliti berencana untuk meneliti dalam studi mendatang.

'Analisis statistik persahabatan gajah' menunjukkan Gajah Asia perempuan hidup dalam masyarakat dinamis dan membaur. Individu yang meninggalkan kelompok cenderung bergabung kembali di kemudian hari seperti simpanse dan lumba-lumba botol.

"Gajah menunjukkan ikatan paling kuat selama musim kering," kata de Silva.

Ketika sumber air langka, beberapa teman gajah membentuk tim untuk mendorong gajah lain yang tidak tahu atau jauh dari danau.

"Studi ini menarik untuk dua hal. Pertama, menyediakan profil tinggi basis sosioekologi. Dan kedua, mendeskripsikan sebuah sistem sosial relatif unik yang hanya dapat dipahami dengan pengamatan beberapa tahun," kata George Wittemyer, biologi satwa liar dari Colorado State University di Fort Collins.

"Ini sangat menarik. Pertanyaannya bagaimana mereka mempertahankan hubungan ini? Apakah perilaku gajah membutuhkan kapasitas kognitif tinggi sebagai jaringan sosial?" kata Phyllis Lee, ekolog behavioral dari University of Stirling di Inggris dan anggota Amboseli Elephant Research Project.
The dynamics of social networks among female Asian elephants

Shermin de Silva et.al.

BMC Ecology, 27 July 2011

Akses : DOI:10.1186/1472-6785-11-17
Shermin de Silva http://www.sas.upenn.edu/~sdesilva/
George Wittemyer http://nature.berkeley.edu/~georgew/
Phyllis Lee http://www.psychology.stir.ac.uk/staff/staff-profiles/academic-staff/phyllis-lee

Artikel Lainnya: