Pages

Korelasi Harga Pangan dan Kondisi Pemicu Kerusuhan Sosial

Jurnal KeSimpulan.com - Kerusuhan dan harga pangan. Jika kita tidak membalik tren harga pangan saat ini maka kerusuhan sosial menyapu planet menjelang Agustus 2013.

Apa yang menyebabkan kerusuhan? Sebuah pertanyaan yang umumnya Anda jawab secara sederhana. Tapi Marco Lagi dan rekannya dari New England Complex Systems Institute di Cambridge, menemukan faktor tunggal yang tampaknya memicu kerusuhan di seluruh dunia: Harga makanan.

Lagi mengatakan ketika harga makanan naik di atas ambang tertentu, kerusuhan sosial menyapu planet ini. Bukti berasal dari dua sumber.

Pertama adalah data yang dikumpulkan oleh PBB yaitu plot harga makanan terhadap waktu yang disebut indeks Food and Agriculture Organisation. Kedua adalah tanggal kerusuhan di seluruh dunia dengan apa pun penyebabnya.

Kedua data tersebut membentuk grafik yang sama, ketika indeks harga pangan naik di atas ambang tertentu, hasilnya adalah masalah di wilayah dunia manapun. Cukup alasan orang menjadi putus asa jika tidak makan tiga kali sehari maka anarki.

Lagi mengatakan harga pangan yang tinggi tidak selalu memicu kerusuhan itu sendiri, tetapi menciptakan kondisi di mana kerusuhan sosial dapat cepat berkembang.

"Pengamatan ini konsisten dengan hipotesis bahwa variabel tingginya harga pangan global mengkondisi kerusuhan sosial," kata Lagi melapor ke arXiv.

Harga pangan yang tinggi menjadi titik balik ketika hampir semua hal dapat memicu kerusuhan seperti mematik korek api di hutan kering.

Pada tanggal 13 Desember 2010, tim peneliti mengirim surat kepada Barack Obama bahwa harga pangan global melewati ambang. Empat hari kemudian, Mohamed Bouazizi menjadi api di Tunisia yang memicu gelombang keresahan sosial ke seluruh kawasan timur tengah.

Lantas bagaimana mengatasinya?

Jika harga makanan tinggi mengkondisi kerusuhan sosial, maka mengurangi harga harus menstabilkan planet ini. Lagi melihat dua faktor utama yang mendorong kenaikan indeks harga makanan.

Pertama adalah perilaku spekulan memperburuk pasar komoditas dan batas-batas perdagangan pembeli dan penjual. Kedua adalah konversi, misalnya, jagung menjadi etanol yang meningkat didorong oleh subsidi. Kedua faktor tersebut pemicu harga.

Hari ini, indeks harga pangan tetap berada di ambang batas namun terus meningkat. Lagi mengatakan jika tren ini terus berlanjut maka indeks akan melewati ambang kerusuhan pada bulan Agustus 2013.

Jika model Lagi benar dan memiliki kekuatan prediktif maka kita akan melihat dunia mudah terbakar dan menunggu bara memanggang kawasan menjadi bubur panas.
The Food Crises and Political Instability in North Africa and the Middle East

Marco Lagi, Karla Z. Bertrand, Yaneer Bar-Yam

arXiv:1108.2455 (Submitted on 11 Aug 2011)

Akses : arXiv:1108.2455
Marco Lagi http://www.necsi.edu/about/researchersandstaff.html

Gambar : Marco Lagi et.al., arXiv:1108.2455

Artikel Lainnya: