Pages

Bakteri Resisten Multi Obat Escherichia coli Tidak Bergeming

Jurnal KeSimpulan.com - Superbug mungkin menetap. Bakteri resisten multi obat mungkin tetap menetap meskipun tanpa antibiotik yang seharusnya melemahkan daya kompetitif.

Kebijaksanaan umum bahwa superbug dengan resistensi antibiotik kurang bersaing dengan tetangga non-super mereka dalam kondisi tanpa antibiotik. Bakteri resisten menjadi perhatian utama karena dapat menyebabkan infeksi berbahaya dan sulit diobati pada manusia.

Perlawanan superbug umumnya terjadi dalam dua cara yaitu mutasi DNA di dalam bakteri atau akuisisi gen resisten dari organisme lain melalui transfer gen horizontal.

Studi sebelumnya menemukan bakteri super kehilangan keunggulan kompetitif ketika antibiotik tidak lagi hadir. Misalnya, peternak Denmark tidak lagi menggunakan antibiotik pada ayam dapat menggurangi kemampuan resistensi bakteri hingga 90 persen terhadap antibiotik di dalam ayam tersebut.

Hal ini terutama karena mempertahankan potongan baru DNA yang diperoleh dari organisme lain atau melakukan mutasi baru yang melatih resistensi antibiotik menghabiskan begitu banyak sumber daya sel, kata Francisco Dionisio di University of Lisbon, Portugal.

Dengan demikian superbug tidak dapat lagi bersaing karena bakteri non-resisten antibiotik telah terhapus terlebih dahulu.

Tapi sekarang Dionisio dan rekannya menemukan bahwa hal ini tidak selalu terjadi. Tim fokus pada 10 strain Escherichia coli yang sudah mendapat gen resistensi antibiotik dari organisme lain. Ketika bakteri ini berkembang secara independen satu dari lima mutasi DNA juga terkait dengan resistensi antibiotik.

Sesuatu yang lebih aneh terjadi yaitu 5 dari 50 strain bakteri kurang kompetitif khas bakteri non-resisten ketika keduanya dibudidaya di piring petri, bahkan tanpa adanya antibiotik.

Hal serupa terjadi ketika tim mulai dengan E. coli yang pertama kali memperoleh resistensi antibiotik melalui mutasi gen dan kemudian mendapatkan resistensi lebih lanjut dengan akuisisi elemen resistensi pembawa gen dari organisme lain.

Kali ini 32 persen strain superbug tetap lebih kompetitif dibandingkan non-bakteri resisten antibiotik sekalipun telah dihapus.

Dionisio mengatakan proses semacam ini dikenal sebagai positive epistasis, namun mengapa dua dampak negatif ketahanan mikroba yang harus bekerja sama untuk memberikan dorongan positif dalam menilai kelangsungan hidupnya "tetap menjadi misteri".

"Ini kejutan nyata untuk menemukan begitu banyak kasus di mana bakteri multi-resisten mencari keuntungan," Isabel Gordo dari Gulbenkian Science Institute in Oeiras, Portugal.

Jim Caryl, farmakolog antibiotik dari University of Leeds di Inggris, mengatakan masalah dapat ditangani dengan selalu menggunakan antibiotik yang memiliki fitness tertinggi untuk menghadapi bakteri sehingga mengurangi kesempatan positive epistasis muncul pada bakteri.

Dionisio tidak setuju. Usaha yang dibutuhkan adalah mencari alternatif antibiotik.

"Kami membutuhkan obat untuk menghentikan transfer elemen gen antar bakteri, mengherankan bahwa kita tidak memiliki cara yang baik melakukan hal ini," kata Dionisio melapor ke PLoS Genetics.
Pervasive Sign Epistasis between Conjugative Plasmids and Drug-Resistance Chromosomal Mutations

Rui F. Silva1 et.al.
  1. Centro de Biologia Ambiental, Faculdade de Ciências da Universidade de Lisboa, Lisboa, Portugal
  2. Instituto Gulbenkian de Ciência, Oeiras, Portugal
PLoS Genetics, 7(7): e1002181, July 28, 2011

Akses : DOI:10.1371/journal.pgen.1002181

Artikel Lainnya: