Pages

Apakah Simpanse di Lab Altruistik Ataukah Cuma Non Jahat

Jurnal KeSimpulan.com - Simpanse lab mengulurkan tangan. Simpanse saling membantu di alam liar tetapi peneliti kesulitan menemukan perilaku altruisme di lab.

Meskipun melakukan perang dan kejahatan, manusia juga bersikap manis. Kita berbagi makanan dengan tetangga, memberikan petunjuk pada orang kebingungan, dan menyumbang uang untuk korban bencana. Tapi apakah hal sama dilakukan sepupu terdekat kita, simpanse?

Peneliti yang mempelajari simpanse di lapangan telah tahu sejak lama bahwa kera berdiskusi dengan rekan-rekan mereka ketika marah dan saling mendukung dalam perkelahian. Ketika salah satu simpanse membunuh monyet, daging dibagi dengan anggota lain.

Tetapi para ilmuwan melihat simpanse tidak melakukannnya dalam eksperimen laboratorium sehingga menciptakan sedikit misteri primatologi. Misalnya, ketika para peneliti memberi simpanse kesempatan mendapatkan hadiah, kera memiliki kemungkinan yang sama untuk memilih egois atau berbagi.

Sekarang Victoria Horner, psikolog komparatif dari Emory University di Atlanta, tahu alasannya mengapa eksperimen tidak menemukan perilaku berbagi yaitu metode eksperimen yang digunakan peneliti lain untuk menguji simpanse terlalu membingungkan.

"Saya harus membaca beberapa kali sebelum saya mengerti dan saya manusia," kata Horner.

Simpanse tidak memahami apa yang mereka lakukan mempengaruhi rekan mereka. Horner bersama tim Emory dan ikon primatolog terkenal Frans de Waal menemukan cara baru untuk menguji kemurahan hati simpanse.

"Kami memiliki pemikiran dasar yang sama namun dari perspektif yang lebih berkesimpansian," kata Horner.

Dalam setiap eksperimen di Yerkes National Primate Research Center di Lawrenceville, Georgia, dua simpanse perempuan ditempatkan di kamar side by side dengan penutup terbuka di antara mereka.

Kedua simpanse telah dilatih untuk "membeli" makanan dari peneliti dengan token berupa potongan pipa PVC 5 sentimeter dan berwarna. Tim mengajarkan salah satu simpanse dari pasangan yang memberi tanda satu warna akan mendapatkan pisang untuk dirinya, sedangkan warna lain akan mendapatkan pisang untuk dirinya dan rekannya.

Lalu diberi kesempatan untuk memilih 30 token dari ember yang berisi kedua jenis token. Para peneliti menguji 7 simpanse perempuan masing-masing tiga kali dengan mitra yang berbeda. Mitra mengamati sepanjang waktu, kadang-kadang juga rewel ketika simpanse lain tidak memberinya imbalan.

Hasilnya simpanse memilih token yang memberi mereka dan mitranya pisang dengan frekuensi 53% hingga 67%, tim melapor ke Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Horner mengatakan kemurahan hati bukanlah sifat unik manusia dan ini bukan hanya kemurahan hati. Simpanse memiliki budaya dan membuat alat yang keduanya dianggap sebagai sifat unik manusia.

"Kita perlu berhenti berusaha untuk menyatakan bahwa kita unik kemudian datang berdamai dengan kenyataan bahwa kita adalah anggota kerajaan hewan," kata Horner.

Temuan ini masuk akal, kata Christophe Boesch, primatolog dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, yang selama ini binggung dengan adanya gap di lapangan dengan di lab.

"Saya pribadi merasa bahwa selama ini ada yang salah dengan eksperimen tentang simpanse di lab. Dengan peningkatan validitas sosial dan ekologi, eksperimen mereka mampu pertama kalinya menduplikasi kemampuan alami simpanse," kata Boesch.

Sekarang peneliti tahu bagaimana simpanse lab merespon seperti simpanse liar, mereka dapat melakukan eksperimen lebih baik untuk meneliti altruisme simpanse dan memahami lebih banyak evolusi primata, kata Boesch.

Samuel Bowles, behavioris dari Santa Fe Institute di New Mexico, menunjukkan bahwa altruisme biasanya mengacu pada kerugiaan orang yang melakukannya.

"Saya memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa kerugian di pihak sendiri bukanlah perilaku altruistik. Ini hanya non-jahat," kata Bowles.

Karena banyak hewan jahat, temuan bermanfaat untuk mengetahui bahwa simpanse tidak jahat, kata Bowles. Tetapi karena simpanse dalam penelitian ini tidak merugikan diri mereka sendiri untuk mendapatkan pisang bersama rekannya maka perilaku ini tidak dihitung sebagai altruisme.
Spontaneous prosocial choice by chimpanzees

Victoria Horner1 et.al.
  1. Living Links, Yerkes National Primate Research Center, Emory University, Atlanta, GA 30043
PNAS August 8, 2011

Akses : DOI:10.1073/pnas.1111088108
Victoria Horner http://www.emory.edu/LIVING_LINKS/horner.html
Christophe Boesch http://www.eva.mpg.de/primat/staff/boesch/
Samuel Bowles http://tuvalu.santafe.edu/~bowles/

Gambar : Devyn Carter http://www.emory.edu/LIVING_LINKS/carter.html

Artikel Lainnya: