Pages

Twitter dan Google Dengue Trends Diagnosa Online Demam Berdarah

Jurnal KeSimpulan.com - Twitter untuk melacak keluhan demam berdarah. Google merekam tren wabah demam berdarah. Program online mendiagnosa pendemi.

"Anakku diduga menderita demam berdarah," tweet seorang wanita di Rio de Janeiro, Brasil. "Saya mungkin terkena demam berdarah. Mudah-mudahan aku salah!" tweet seorang pria di São Paulo, 350 kilometer jauhnya.

Pesan-pesan singkat diposting di Twitter mungkin tidak terlihat banyak, tetapi ketika mulai lagi musim demam berdarah di Brazil November nanti, tweets seperti ini bisa membantu mengontrol wabah secara lebih baik pada virus yang membunuh ratusan orang setiap tahun.

Perangkat lunak yang dibuat oleh sebuah kolaborasi oleh Brazilian National Institutes of Science and Technology dan Wagner Meira, programer dari Federal University of Minus Gerais, digunakan untuk mengidentifikasi korelasi tinggi antara waktu dan tempat di mana orang menciak berdarah dan statistik resmi dimana penyakit muncul setiap musim.

Twitter telah digunakan untuk mengikuti pandemi flu babi 2009. Tetapi ini pertama kalinya digunakan untuk melacak demam berdarah dan data pertama kalinya skala kota dikumpulkan dengan cara ini.

Wabah demam berdarah terjadi setiap tahun di Brazil, tetapi tepatnya di mana bervariasi setiap musim sehingga memerlukan beberapa minggu setelah analisis. Ini membuat sakit kepala otoritas kesehatan dengan segala sumber daya.

"Ini tidak memprediksi masa depan tetapi sekarang. Kita tidak menunggu sepekan seperti dulu," kata Meira.

Pengujian perangkat lunak dilakukan pada 2447 tweet mengandung kata "berdarah" dan lokasi yang dikirim antara Januari dan Mei 2009 menunjukkan bahwa "tweet pengalaman pribadi" berkorelasi tinggi dengan wabah yang diidentifikasi oleh Departemen Kesehatan Brasil. Studi ini dipresentasikan saat Web Science Conference di Koblenz, Jerman.

Meira mengatakan tweets cermin tren yang terlihat di kota-kota di mana perubahan dalam wabah demam berdarah diketahui telah terjadi.

Philip Polgreen, virulog dari University of Iowa di Iowa City, dan rekannya Alberto Segre, programer, baru-baru ini melaporkan studi serupa ke PloS ONE pada penggunaan Twitter untuk melacak flu babi di berbagai daerah di Amerika Serikat. Mereka mengatakan studi Meira signifikan.

"Mereka memasukkan analisis sentimen dan menempatkan geografi dengan baik," kata Segre.

Bulan lalu, Google meluncurkan perangkat Google Dengue Trends yang mencatat lonjakan pencarian web untuk demam berdarah dengan kenyataan bahwa orang yang mengalami demam berdarah cenderung untuk mencari informasi tentang hal itu. Studi ini dilakukan di Bolivia, Brazil, India, Indonesia, dan Singapura.

John Brownstein, epidemiolog di Children 's Hospital Boston, yang bekerja bersama proyek Google melaporkan studi ke PLoS Neglected Tropical Diseases mengatakan metode Google dan Twitter adalah komplementer. Google pada pencarian yang lebih umum, sedangkan Twitter lebih menyediakan konteks.
Using Web Search Query Data to Monitor Dengue Epidemics: A New Model for Neglected Tropical Disease Surveillance

Emily H. Chan1,2
  1. Children's Hospital Informatics Program, Harvard-Massachusetts Institute of Technology Division of Health Sciences and Technology, Boston, Massachusetts, United States of America
  2. Division of Emergency Medicine, Children's Hospital Boston, Boston, Massachusetts, United States of America
PLoS Neglected Tropical Diseases, 5(5): e1206, May 31, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1371/journal.pntd.0001206

The Use of Twitter to Track Levels of Disease Activity and Public Concern in the U.S. during the Influenza A H1N1 Pandemic

Alessio Signorini1
  1. Department of Computer Science, University of Iowa, Iowa City, Iowa, United States of America
PLoS ONE, 6(5): e19467, May 4, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0019467
Wagner Meira http://homepages.dcc.ufmg.br/~meira/
Alberto Segre http://vinci.cs.uiowa.edu/index.php/Profiles/Segre

Google Dengue Trends http://www.google.org/denguetrends/

Artikel Lainnya: