Pages

Titi Monkey Adenovirus TMAdV Melompat Ke Manusia

Jurnal KeSimpulan.com - Virus baru antar primata. Sebuah virus melompat dari Monyet Titi (Callicebus cupreus) ke pekerja lab. Tetapi ilmuwan justru melihat peluang baik.

Pelakunya adalah adenovirus salah satu dari kelas virus yang menyebabkan berbagai penyakit pada manusia, termasuk pneumonia.

Berawal dari seekor monyet dengan pneumonia di California National Primate Research Center di Davis. Dalam beberapa minggu, 19 monyet mati dan tiga manusia sakit. Sebuah laporan baru menegaskan Davis adalah kasus pertama yang diketahui terkait adenovirus melompat dari monyet ke manusia.

Adenovirus adalah virus dengan DNA relatif besar dibandingkan virus lain yang mereplikasi RNA penyebab pilek dan infeksi pernapasan pada manusia. Mereka juga bertanggung jawab untuk berbagai penyakit pada anjing, kuda, babi, dan hewan lainnya, namun para ilmuwan berpikir virus dan tidak melompat antar spesies.

Pada tanggal 14 Mei 2009 di Davis, satu monyet pria dewasa sehat, coklat kemerahan, spesies yang banyak hidup di Amerika Selatan sakit batuk, sangat lesu dan tidak mau makan. Staf lab memberi intravena dan antibiotik, namun kondisi memburuk, dan setelah 5 hari dilakukan eutanasia.

Empat minggu kemudian, monyet lain dengan gejala sama. Lalu, satu lagi. Dan lainnya lagi. Dalam waktu 2 bulan, 23 dari 65 monyet kuat menjadi sakit, dan 19 lagi akhirnya meninggal.

Sebuah tim dipimpin Charles Chiu, virulog dan direktur UCSF-Abbott Viral Diagnostics and Discovery Center di University of California, San Francisco, menganalisis sampel jaringan paru monyet mati dan mengidentifikasi adenovirus yang mereka namakan titi monkey adenovirus (TMAdV).

Asal usul virus tidak diketahui. Monyet-monyet Titi mungkin bukan host asli virus. Sekitar 83% pemilik gejala meninggal (tingkat kematian mencegah virus beredar dalam populasi tanpa memusnahkan monyet). Strain adenovirus pada manusia menunjuk angka kematian 18%.

Spesies host asli bisa manusia yang membawa virus ke monyet hanya untuk untuk melompat kembali ke manusia atau bisa juga hewan lain. Para peneliti mengumpulkan sampel darah monyet dan manusia dari seluruh Amerika Serikat, Brasil dan Afrika untuk menemukan asal-usul virus.

Michael Imperiale, mikrobiolog dari University of Michigan di Ann Arbor, mengatakan TMAdV tidak selalu merupakan ancaman kesehatan masyarakat. Seperti virus flu burung melompat ke manusia tetapi bukan antar manusia.

"Pertanyaannya bukan hanya apakah virus bisa melompat tetapi juga apakah dapat menyebar luas. Ini belum terbukti," kata Imperiale.

Chiu mengatakan tidak ada alasan untuk mencurigai akan ada pandemi TMAdV seperti yang telah ada dengan virus lainnya yang menyebar ke manusia dari hewan.

Para peneliti menganalisis apakah ada pekerja laboratorium sakit selama waktu tersebut. Satu orang yang selalu dekat setiap hari dengan monyet dilaporkan demam, menggigil, sakit kepala, batuk kering, dan rasa terbakar di paru, sebuah gejala jenis infeksi pernapasan yang umum disebabkan oleh adenovirus. Dua anggota keluarga melaporkan gejala sama, meskipun tidak parah.

Pekerja laboratorium maupun anggota keluarganya mencari pertolongan medis dan semua pulih dalam 4 minggu. Ini terlambat bagi para peneliti untuk melacak jejak adenovirus secara langsung. Pemeriksaan dilakukan terhadap darah untuk antibodi dan dibandingkan dengan darah dari monyet yang terinfeksi.

Pekerja laboratorium dan salah satu anggota keluarganya menunjukkan perlawanan, menunjukkan bahwa monyet menularkan virus kepada pekerja laboratorium atau sebaliknya. Tetapi ketika tim menguji 81 sampel darah dari donor di Amerika Serikat, tidak memiliki antibodi. Ini menunjukkan manusia bukan sumber wabah.

Setelah mengeledah monyet-monyet lain, para peneliti menemukan satu Rhesus macaque sehat dengan antibodi TMAdV. Ini menunjukkan penyakit mungkin muncul dari kera dan entah bagaimana menular ke pekerja laboratorium, peneliti melapor ke PLoS Pathogens.

Meskipun virus tidak mematikan tetapi bagi manusia yang terinfeksi menunjukkan ada patogen yang berpotensi melompat antar spesies primata yang tidak diperkirakan sebelumnya.

"Sekarang kita perlu memperluas fokus dalam melihat primata dan hewan pemilik adenovirus lainnya. Kami hanya menyentuh ujung dari gunung es," kata Chiu.

Tetapi semakin kita tahu tentang hal ini dan virus baru lainnya, semakin baik, kata Eric Delwart, virus dari Blood Systems Research Institute at UCSF.

"Karakterisasi viromes hewan memfasilitasi pendeteksian virus terkait dan mungkin menghapus populasi dalam beberapa hari yang berharga untuk mengidentifikasi sebuah virus baru dalam wabah yang parah di masa depan," kata Delwart.

Chiu mengatakan TMAdV yang langka pada manusia berpotensi kuat sebagai kendaraan virus untuk terapi gen. Para peneliti sudah menggunakan modifikasi adenovirus yang disulam dengan potongan DNA memiliki manfaat untuk terapi penyakit, misalnya, virus Gendicine untuk melawan kanker dengan gen pengkode protein p53 penekan tumor.

Masalahnya banyak orang memiliki antibodi terhadap virus ini dan respon kekebalan tubuh dapat membuat terapi tersebut menjadi berbahaya atau bahkan mematikan. Masalah yang kemungkinan besar tidak akan terjadi dengan versi modifikasi TMAdV karena tidak ada yang memiliki antibodi untuk itu.
Cross-Species Transmission of a Novel Adenovirus Associated with a Fulminant Pneumonia Outbreak in a New World Monkey Colony

Eunice C. Chen1,2
  1. Department of Laboratory Medicine, University of California San Francisco, San Francisco, California, United States of America
  2. UCSF-Abbott Viral Diagnostics and Discovery Center, University of California San Francisco, San Francisco, California, United States of America
PLoS Pathogens, 7(7): e1002155, July 14, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1371/journal.ppat.1002155
Charles Chiu http://labmed.ucsf.edu/about/faculty/labmed-cchiu.html
Michael Imperiale http://www.med.umich.edu/microbio/bio/imperiale.htm
Eric Delwart http://labmed.ucsf.edu/about/faculty/labmed-edelwart.html

Gambar : UCSF http://vddc.ucsf.edu/

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment