Pages

Injeksi Koronal Matahari Ciptakan Aurora Jupiter Lebih Kuat Dari Bumi

Jurnal KeSimpulan.com - Aurora planet ekstrasurya. Coronal mass ejection (CME) yang memukul perisai magnetik "Jupiter panas" memciptakan gelombang aurora kutub planet.

Aurora Bumi atau Cahaya Utara dan Selatan memberikan pertunjukan cahaya menyilaukan bagi mereka yang tinggal di wilayah kutub. Tirai berkilauan hijau dan merah berombak-ombak di langit seperti hidup.

Penelitian baru menunjukkan aurora jauh di "hot Jupiters" bisa 100-1000 kali lebih terang dari aurora di Bumi. Juga riak dari ekuator ke kutub (karena kedekatan planet dengan letupan bintang) mempertontonkan peristiwa di planet ini hingga terlihat ke Bumi.

"Saya ingin mendapatkan reservasi tour untuk melihat aurora ini!" kata Ofer Cohen, mahasiswa postdoc SHINE-NSF di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CFA) yang juga anggota tim.

Aurora Bumi tercipta ketika partikel energik Matahari terbanting ke medan magnet planet. Partikel surya mengarah ke kutub ketika menabrak atmosfer Bumi, menyebabkan molekul udara bercahaya seperti lampu neon. Proses yang sama dapat terjadi di eksoplanet yang mengorbit bintang-bintang jauh.

Aurora paling kuat di Bumi tercipta karena hit coronal mass ejection (CME) yaitu ledakan raksasa yang mengirimkan miliaran ton plasma surya (gas panas bermuatan listrik) ke dalam tata surya.

Sebuah CME dapat mengganggu magnetosfer Bumi yaitu gelembung ruang yang dilindungi oleh medan magnet Bumi karena menyebabkan badai geomagnetik. Pada tahun 1989, kekuatan pukulan CME ke Bumi menyebabkan badai geomagnetik di Quebec, Kanada.

Cohen dan rekan-rekannya merancang formula model untuk mempelajari apa yang akan terjadi jika gas raksasa dalam orbit dekat (hanya beberapa juta mil dari bintang host) terkena letupan bintang. Mereka ingin mempelajari efek pada atmosfer planet dan magnetosfer di sekitarnya.

Dalam sistem tata surya kita, sebuah CME menyebar karena perjalanan melalui ruang sehingga lebih menyebar ketika mencapai Bumi. Sebuah "Jupiter panas" akan merasakan ledakan kuat dan lebih terfokus seperti perbedaan getaran antara letusan gunung berapi lebih kuar dari jarak 1 mil daripada jarak 100 mil.

"Dampak terhadap planet benar-benar berbeda dari apa yang kita lihat dalam sistem surya kita dan banyak lagi kekerasan," kata Kashyap Vinay astronom dari CFA.

CME memukul "Jupiter panas" dan melemahkan perisai magnetik. Kemudian partikel CME mencapai atmosfer gas raksasa. Aurora menyala di sebuah cincin di sekitar ekuator, 100-1000 kali lebih enerjik dibandingkan aurora Bumi. Selama sekitar 6 jam, aurora bergelombang ke atas dan ke bawah menuju kutub utara dan kutub selatan sebelum secara bertahap memudar.

"Perhitungan kami menunjukkan bagaimana mekanisme perlindungan planet bekerja. Bahkan sebuah planet dengan medan magnet yang lebih lemah dari Jupiter akan tetap relatif aman," kata Cohen melapor ke arXiv.

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi kelayakhunian planet berbatu yang mengorbit bintang-bintang jauh. Bintang kerdil merah adalah bintang paling umum di galaksi kita, para astronom telah menyarankan fokus pada mereka dalam mencari dunia layak huni.

Namun kurcaci merah yang lebih dingin dari Matahari yaitu sebuah planet berbatu harus mengorbit sangat dekat dengan bintang yang cukup hangat bagi air cair. Di sana mengalami semacam kekerasan letusan bintang. Cohen dan tim berencana untuk meneliti apakah planet berbatu bisa melindungi diri dari letupan tersebut.
The Dynamics of Stellar Coronae Harboring Hot-jupiters II. A Space Weather Event on A Hot-jupiter

O. Cohen1 et.al.
  1. Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CFA)
arXiv:1102.4125

Akses : http://arxiv.org/abs/1102.4125
Gambar : Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CFA)

Artikel Lainnya: