Pages

Gelombang Kematian Meletup 50 Detik Setelah Melewati Ajal

Jurnal KeSimpulan.com - Gelombang kematian tidak mungkin napas terakhir. Hampir satu menit pasca kepala tikus terputus dari tubuh, aktivitas gelombang bergidik di otak.

Beberapa peneliti berpikir gelombang pasca-pemenggalan menandai perbatasan antara hidup dan mati. Tetapi fenomena dapat dijelaskan oleh perubahan listrik yang dalam beberapa kasus reversibel. Peneliti melapor ke PLoS ONE.

Apakah gelombang otak serupa terjadi pada manusia dan jika demikian apakah memiliki implikasi penting. Sebuah petunjuk tidak ambigu bisa membantu dokter lebih baik memutuskan kapan mendiagnosa kematian otak yang dapat memberikan kejelasan kepada orang tercinta.

Sebuah laporan ke PLoS ONE Januari, Anton Coenen, neurosian dari Radboud University Nijmegen di Belanda, dan rekannya menjelaskan gelombang aktivitas listrik di otak tikus terjadi 50 detik setelah dipenggal. Aktivitas otak ini sepertinya perbatasan utama antara hidup dan mati. Tim menjuluki fenomena "wave of death".

Michel van Putten, neurolog dari University of Twente di Enschede, Belanda, tidak yakin.

"Kami tidak meragukan pengamatan nyata. Tapi penafsiran benar-benar spekulatif," kata van Putten.

Dalam studi baru, van Putten dan rekannya menyusun model matematika bagaimana sebuah sel saraf berperilaku jika oksigen dan pasokan energi tiba-tiba terputus. Model ini terdiri dari hanya satu sel dengan tiga jenis saluran yang memungkinkan partikel bermuatan mengalir masuk dan keluar.

Ruang luar dan dalam sel-sel saraf memiliki muatan listrik tidak sama, perbedaan memungkinkan neuron meletup impuls api yang digunakan untuk berkomunikasi antar sel.

Setelah suplei energi dan oksigen terhenti, saluran berhenti berfungsi normal, menyebabkan penumpukan muatan positif di luar sel. Penumpukan ini mendorong keluarnya aktivitas listrik sekitar satu menit setelah memulai gelombang kematian.

Bas-Jan Zandt, fisikawan juga dari University of Twente, mengatakan simulasi sangat cocok apa yang diamati dalam otak tikus. Perilaku sel bisa menjadi awal dari proses yang merusak, seperti pembengkakan sel, tapi tidak ada gelombang aktual yang berarti sel saraf akan mati.

"Ini tidak menyebabkan kerusakan sel. Pada prinsipnya adalah proses reversibel," kata Zandt.

Gelombang otak dapat mewakili suatu peristiwa saat perjalanan menuju kematian, tapi mungkin bukanlah kematian itu sendiri, kata Kevin Nelson, klinisi neurofisiologi dari University of Kentucky di Lexington.
Neural Dynamics during Anoxia and the “Wave of Death”

Bas-Jan Zandt1 et.al.
  1. Neuroimaging at MIRA-Institute for Biomedical Technology and Technical Medicine, University of Twente, Enschede, The Netherlands
PLoS ONE 6(7): e22127, July 13, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0022127

Decapitation in Rats: Latency to Unconsciousness and the ‘Wave of Death’

Clementina M. van. Rijn1 et.al.
  1. Department of Biological Psychology, Donders Institute for Brain, Cognition and Behaviour, Radboud University Nijmegen, Nijmegen, The Netherlands
PLoS ONE 6(1): e16514, January 27, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0016514

Anton Coenen http://www.ru.nl/
Michel van Putten http://www.utwente.nl/tnw/cnph/people/Staff/MvP/
Bas-Jan Zandt http://www.utwente.nl/
Kevin Nelson http://www.mc.uky.edu/neurology/faculty/nelson.asp

Gambar : Bas-Jan Zandt et.al., DOI:10.1371/journal.pone.0022127.g001

Artikel Lainnya: