Pages

Partikel Awan Aerosol Garam Laut Sebagai Filter Pemanasan Sinar Matahari

Jurnal KeSimpulan.com - Awan garam meringankan pemanasan Arktik. Sebaran semprotan air laut menciptakan filter untuk pemanasan sinar Matahari.

Pemanasan Bumi dalam beberapa tahun terakhir telah berdampak besar-besaran di Arktik. Di sana, suhu relatif melambung ke daerah beriklim sedang, mengakibatkan peningkatan pencairan es laut musim panas. Tetapi penelitian baru menunjukkan pemanasan lokal berkurang jika garam ditendang oleh ombak dari perairan di Arktik yang semakin terbuka.

Salju dan es laut banyak memantulkan pemanasan sinar Matahari kembali ke angkasa dimana sepanjang tahun es laut di Samudra Arktik atau mengurangi Albedo dan menjadi semakin lebih baik penyerap energi surya. Air terbuka mulai berkembang di musim semi dan tidak sampai musim gugur. Awan bisa menangkis sinar Matahari yang masuk.

Para klimatolog menyadari garam laut bisa disemprotkan ke atmosfer rendah, membentuk awan menyebar partikel kecil sebagai filter. Pertanyaannya yaitu seberapa efektif awan ini mungkin menggurangi pemanasan musim panas Samudra Arktik.

Mayoritas partikel garam laut dipancarkan ke udara dengan baik di bawah diameter mikrometer, kata Hamish Struthers, klimatolog dari Stockholm University. Partikel-partikel kecil yang dikenal sebagai aerosol dapat bertahan di udara selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu dan naik ke ketinggian satu kilometer atau lebih.

Dalam studi baru, Struthers dan rekan-rekannya membangun program komputer berbasis satelit untuk mengukur perubahan musiman Albedo Arktik dan sejumlah fitur permukaan termasuk suhu, tutupan es dan garam laut yang ditendang oleh gelombang di permukaan laut.

Seperti yang diprediksi, awan garam secara halus dapat mendinginkan Kutub Utara, tim melapor ke Atmospheric Chemistry and Physics.

Struthers mengatakan perhitungan baru timnya menunjukkan "ukuran efek [garam] aerosol kemungkinan besar 10 persen atau kurang dari efek [pemanasan] Albedo" karena laut es mencair. Efeknya adalah kecil, tetapi tidak dapat diabaikan.

"Natural feedbacks dalam sistem iklim, seperti yang dijelaskan di sini, secara potensial sangat penting. Ini pertama kali saya melihat mekanisme umpan balik dibahas atau diukur. Sebuah laporan menarik yang menggambarkan sebuah mekanisme baru untuk modulasi iklim di wilayah Arktik," kata Natalie Mahowald, klimatolog atmosfer dari Cornell University.
The effect of sea ice loss on sea salt aerosol concentrations and the radiative balance in the Arctic

Penulis :

H. Struthers11, et.al.

Afiliasi :
  1. Department of Applied Environmental Science, Stockholm University, Sweden
  2. Bert Bolin Center for Climate Research, Stockholm University, Sweden
Penerbit : Atmospheric Chemistry and Physics, 11, 3459-3477, 2011

Download dan Akses : DOI:10.5194/acp-11-3459-2011
Hamish Struthers http://www.itm.su.se/page.php?pid=536&id=273
Natalie Mahowald http://www.eas.cornell.edu/cals/eas/people/profile.cfm?netId=nmm63

Gambar : J McNeill, http://www.i-fink.com

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment