Pages

Fosil Spesimen Jejak Pendaratan Serangga Capung Primitif Berdating 300 Juta Tahun

News KeSimpulan.com - Tiga ratus juta tahun yang lalu, serangga terbang tergelincir dan mendarat di sebuah patch Bumi berlumpur yang mengawetkan jejak abadi 3,5 sentimeter.

Richard J. Knecht, geolog, dan Jake Benner, paleontolog dari Tufts University, berangkat berburu fosil di lokasi yang mereka pelajari setelah membaca sebuah tesis master yang telah ditulis pada tahun 1929. Dengan pahat dan palu, tim mengumpulkan serpih dan batupasir dan secara hati-hati memilih batu. Tepat di bawah permukaan, mereka menemukan kesan fosil serangga terbang.

Knecht mengatakan temuan adalah spesimen tertua tubuh serangga terbang primitif berdating 300 juta tahun dari Carboniferous Period. Catatan langka di dunia ichnology sebagai fosil jejak hewan, fitur dan jalur untuk meneliti perilaku.

"Menangkap momen pada waktu lebih dari 300 juta tahun yang lalu ketika serangga terbang terjadi di permukaan tanah, lembab berlumpur meninggalkan kesan sempurna untuk jaman ini," kata Benner.

Paleontolog menggunakan fosil tubuh serangga untuk mempelajari anatomi dan mengembangkan hipotesis mengenai proses evolusi. Biasanya bukti hanya tersedia untuk sisa-sisa sayap dan tubuh serangga terbang primitif jarang terawetkan sehingga sangat sedikit yang diketahui. Fosil baru menyediakan bukti bagaimana gerakan setelah mendarat di permukaan, sikap, posisi kaki dan rincian tentang perut dan dada.

Knecht dan Benner mengatakan anatomi dan tubuh serangga konsisten dengan serangga terbang primitif bahwa "ada jejak berjalan yang mengarah ke kesan tubuh, menunjukkan bahwa itu datang dari atas." Michael S. Engel, entomolog dari University of Kansas, mengatakan pemeriksaan awal anatomi menunjukkan kemungkinan terkait dengan lalat capung.

"Kita bisa melihat dari jejak bahwa ia memiliki posisi jongkok. Kakinya telentang dan perut ditekan.." kata Engel.

Mengidentifikasi serangga juga membantu para peneliti mengetahui ekosistem periode tersebut dan jenis hewan yang tinggal di dalamnya. Spesimen dapat juga untuk memahami penerbangan serangga dan evolusi dari kecil (hewan pra terbang).

"Kita mulai berpikir tentang kondisi, iklim dan kehidupan yang harus sudah ada di lingkungan untuk mendukung kehidupan. Salah satu fokus adalah serangga itu sendiri. Lainnya adalah gambaran besar dunia yang lebih luas," kata Knecht.
Late Carboniferous paleoichnology reveals the oldest full-body impression of a flying insect

Penulis :

Richard J. Knecht1, Michael S. Engel1,2, Jacob S. Benner1.

Afiliasi :
  1. Department of Geology, Tufts University, Medford, MA 02155
  2. Division of Entomology (Paleoentomology), Natural History Museum
  3. Department of Ecology and Evolutionary Biology, University of Kansas, Lawrence, KS 66049
Penerbit : PNAS April 4, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1073/pnas.1015948108
Richard J. Knecht http://geology.tufts.edu/default.asp
Jake Benner http://geology.tufts.edu/default.asp
Michael S. Engel http://entomology.biodiversity.ku.edu/michael-engel

Gambar : Richard J. Knecht, et.al. Department of Geology, Tufts University

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment