Pages

Gelombang Alpha Tetap Ada Tapi Tenggelam Oleh Theta dan Delta Selama Tidur

Jurnal KeSimpulan.com - Gelombang otak meramal tidur. Kita sering terbangun oleh rintik hujan lembut di malam hari tetapi kebal gemuruh alarm jam saat harus ke kantor di pagi hari.


Mengapa gemerisik lirih membangunkan kami pada malam hari, tetapi ketika bunyi gemuruh alarm jam tidak mampu membangunkan kita? Sebuah studi baru mengimplikasikan jenis aktivitas otak yang dikenal sebagai gelombang alfa. Dengan pemantauan yang lebih baik gelombang ini, peneliti dapat mengembangkan terapi yang bisa membantu kita bisa tidur dengan baik di malam hari.

Perubahan otak disebabkan oleh kegiatan kita di sepanjang hari. Ketika bangun, neuron membuat obrolan singkat. Electroencephalogram (EEG) mengukur "gelombang alpha" ini terlihat sangat mirip dengan sinyal gempa pada seismometer. Ketika kita tidur, obrolan neuron melambat sehingga gelombang kurang intens dibanding gelombang theta dan delta.

Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa gelombang alfa membantu kita menanggapi suara lingkungan. Namun tampaknya sinyal menghilang selama tidur, meskipun kita masih mampu merespon isyarat lingkungan seperti asap atau sirene satpol PP yang lewat. Jadi, apakah gelombang alfa benar-benar hilang ketika kita tidur?

Para ilmuwan tidur yaitu Scott McKinney dan Jeffrey Ellenbogen dari Massachusetts General Hospital di Boston dan koleganya menggunakan program komputer canggih untuk mengetahui. Daripada memelototi bola mata di EEG seperti yang telah peneliti di masa lalu, program ini memberi pemecahan pola rumit aktivitas otak. Selama tidur, para peneliti menemukan gelombang alfa masih ada, hanya tenggelam oleh gelombang theta dan delta.

Untuk mengetahui peran gelombang alpha bermain di malam hari, McKinney merekrut 13 sukarelawan sehat untuk menghabiskan beberapa malam di laboratorium tidur milik rumah sakit. Ketika EEG menunjukkan tidur nyenyak, para peneliti memainkan berbagai suara dari mesin jet pesawat terbang hingga mesin cuci.

Diawali suara-suara lembut sekitar 40 desibel di rumah yang tenang. Para peneliti secara bertahap meningkatkan kebisingan sampai EEG reaktif sebagai tanda bahwa tidur sudah terganggu.

"Jika Anda harus membutuhkan suara keras untuk membangunkan mereka, artinya mereka berada dalam fase tidur nyenyak. Jika Anda hanya perlu suara lembut, mereka berada dalam tahap tidur lebih rapuh," kata McKinney.

Selama fase tidur rapuh, gelombang alfa muncul terkuat, para peneliti melapor ke PLoS ONE. Sehingga kekuatan gelombang alfa menjadi prediktor baik bagaimana seseorang dengan mudah bisa terbangun dari tidur.

"Ini demonstrasi sangat bagus, ada banyak hal yang terjadi saat tidur dan banyak fluktuasi jangka pendek," kata Mathias Basner, psikiater dari University of Pennsylvania Medical School di Philadelphia, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Tidur biasanya dibagi menjadi lima fase yang berbeda dan orang-orang biasanya berpikir bergerak melalui fase-fase tidur dalam periode yang berlangsung 15 sampai 30 menit. Studi ini menunjukkan otak tidak selalu tidur di fase seperti yang didefinisikan selama ini, kata Basner.

McKinney berharap temuan dapat memverifikasi terapi tidur lebih maju. Misalnya, obat-obatan yang akan diberikan hanya ketika seseorang dalam bahaya bangun dari EEG kecil portabel yang mungkin terlihat seperti ikat kepala. Obat tidur masa kini sangat kasar dan jenis treatment seperti kompor di atas kepala, membuat ketukan sepanjang malam.

"Studi ini membuka pintu pemberian terapi monitor tidur real-time seperti bagaimana mengelola anestesi," kata McKinney.
Covert Waking Brain Activity Reveals Instantaneous Sleep Depth

Penulis :

Scott M. McKinney1
Thien Thanh Dang-Vu1,2,3
Orfeu M. Buxton2,4
Jo M. Solet2,5
Jeffrey M. Ellenbogen1,2

Afiliasi :
  1. Department of Neurology, Massachusetts General Hospital, Boston, Massachusetts, United States of America
  2. Division of Sleep Medicine, Harvard Medical School, Boston, Massachusetts, United States of America
  3. Cyclotron Research Centre, University of Liege, Liege, Belgium
  4. Department of Medicine, Brigham and Women's Hospital, Boston, Massachusetts, United States of America
  5. Department of Medicine, Cambridge Health Alliance, Cambridge, Massachusetts, United States of America
Penerbit : PLoS ONE, 6(3): e17351, March 3, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1371/journal.pone.0017351
Credit : University of Cincinnati Clermont College

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment