Pages

Dua Varian Gen p53 Untuk Proline dan Arginine Pembeda Prognosis Pasca Stroke

Jurnal KeSimpulan.com - Jenis gen baik untuk kanker buruk bagi pasca stroke. Sebuah varian DNA terkait dengan berkurangnya pemulihan otak.

Sebuah varian genetik alami dapat memprediksi siapa yang akan melakukannya dengan baik dan yang tidak baik setelah stroke. Orang yang memiliki dua salinan dari versi tertentu gen Tp53 memiliki prognosis buruk setelah stroke dan perdarahan otak, demikian laporan peneliti di Spanyol ke Journal of Experimental Medicine (JEM).

Perbedaan antara dua versi gen untuk satu perubahan kecil yaitu swapping pengeluaran proline Pro72-p53 untuk arginine Arg72-p53 sebagai link ke-72 dalam rantai asam amino yang membentuk protein yang disebut p53.

Varian arginine yang terkandung dalam p53 sebelumnya telah ditunjukkan membantu perlindungan melawan kanker dengan peningkatan apoptosis, sel yang diprogram untuk bunuh diri sehingga menghapus sel yang rusak sebelum mereka berubah jahat. Sel-sel otak juga dapat mengalami apoptosis setelah stroke, tetapi menjadi hal yang buruk karena menyebabkan kerusakan lebih luas.

Angeles Almeida, biomolekuler dari University Hospital of Salamanca, dan rekan-rekannya ingin tahu apakah varian tersebut bekerja penuh semangat dalam otak seperti pada sel-sel kanker sehingga mereka menguji sel-sel saraf yang membuat varian versi arginine atau proline.

"Kami melihat perbedaan besar," kata Almeida.

Sel dengan versi arginine p53 memiliki empat kali kapasitas lebih besar melakukan apoptosis dibanding yang dilakukan sel-sel dengan varian proline. Perbedaan molekuler lebih membawa konsekuensi bagi seluruh otak. Para peneliti menguji DNA korban stroke dan pendarahan otak untuk melihat apakah versi p53 dapat mempengaruhi prognosis mereka.

Tim peneliti menemukan bahwa varian tidak mempengaruhi kemungkinan memiliki stroke atau pendarahan otak, tetapi berkorelasi dengan seberapa baik pasien pulih dalam tiga bulan setelah cedera otak.

Orang yang memiliki prognosis buruk setelah stroke, sekitar 81 persen membawa dua salinan varian arginine. Sekitar 91,5 persen orang dengan hasil yang buruk setelah pendarahan memiliki satu varian arginine. Tidak satu pun orang dengan dua salinan varian proline memiliki hasil buruk setelah stroke maupun perdarahan. Orang dengan satu salinan dari setiap varian cenderung memiliki prognosis yang baik setelah kedua jenis cedera otak.

"Data epidemiologis mereka benar-benar sangat meyakinkan," kata David Johnson, biomolekuler dari University of Texas M.D. Anderson Cancer Center di Smithville.

Tetapi tidak semua orang setuju. "Kita sudah tahu tidak ada cara seperti ini akan terus pada Afro-Amerika," kata Maureen Murphy, biologi kanker dari Fox Chase Cancer Center di Philadelphia.

Murphy mengatakan bahwa Afro-Amerikan cenderung memiliki versi proline p53, tetapi juga memiliki tingkat tinggi stroke. Ini menjadi penting untuk mengulang penelitian pada kelompok etnis lainnya dalam menentukan varian sebagai prediktor yang baik untuk stroke pada semua orang.

Temuan juga tidak jelas apakah memiliki efek pada cara dokter mengobati pasien stroke, kata Mira Katan, neurosian dari Columbia University. Umumnya waktu terlalu lama untuk melakukan analisis genetik di ruang darurat sehingga dokter kemungkinan akan terus mengobati orang dengan menggunakan pedoman standar.

Almeida sependapat bahwa hasil tidak dapat segera meningkatkan terapi pasien, tetapi mengatakan bahwa temuan menunjukkan pengendalian apoptosis suatu hari nanti bisa membuat perbedaan besar.
The human Tp53 Arg72Pro polymorphism explains different functional prognosis in stroke

Penulis :

Jose C. Gomez-Sanchez1
Maria Delgado-Esteban2
Irene Rodriguez-Hernandez3
Tomas Sobrino4
Natalia Perez de la Ossa6
Silvia Reverte6
Juan P. Bolaños7
Rogelio Gonzalez-Sarmiento3
Jose Castillo4,5
Angeles Almeida2,7

Afiliasi :
  1. Department of Neurology, University Hospital of Salamanca, 37007 Salamanca, Spain
  2. Research Unit, University Hospital of Salamanca and Institute of Health Sciences of Castilla and Leon, 37007 Salamanca, Spain
  3. Department of Medicine and Center for Cancer Research, University of Salamanca and Consejo Superior de Investigaciones Científicas, 37007 Salamanca, Spain
  4. Clinical Neuroscience Research Laboratory and 5Department of Neurology, University Hospital and University of Santiago de Compostela, 15706 Santiago de Compostela, Spain
  5. Stroke Unit, Department of Neurosciences, University Hospital Germans Trias i Pujol, Universitat Autònoma de Barcelona, 08916 Barcelona, Spain
  6. Department of Biochemistry and Molecular Biology, University of Salamanca, 37007 Salamanca, Spain
Penerbit : Journal of Experimental Medicine, February 28, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1084/jem.20101523
Angeles Almeida http://www.usal.es
David Johnson http://cred.mdanderson.org/faculty/johnson_d/
Maureen Murphy http://www.fccc.edu/research/pid/murphy/
Mira Katan http://www.columbia.edu/

Credit : Jose C. Gomez-Sanchez, et.al. JEM, DOI:10.1084/jem.20101523

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment