Pages

Bakteri Sahabat Kekebalan Tubuh Membantu Melawan Influenza di Paru-paru

Jurnal KeSimpulan.com - Bakteri bersahabat melawan flu. Mikroba memicu respon imun yang menekan infeksi influenza di paru-paru.

Bakteri bermanfaat tidak hanya membantu pencernaan, mereka juga menangkis flu, demikian penelitian baru yang dilaporkan ke Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Sebuah tim peneliti dipimpin Akiko Iwasaki, imunolog dari Yale University di New Haven, Connecticut, menemukan tikus diobati dengan antibiotik neomycin lebih peka terhadap virus influenza dibandingkan tikus kontrol.

Ternyata bakteri sensitif neomycin secara alami di dalam tubuh tikus tersebut memicu produksi sel T dan antibodi yang bisa melawan infeksi influenza di paru-paru.

Bakteri mendorong jalur pertempuran flu dengan mengaktifkan kompleks protein 'inflammasome' dalam sistem kekebalan tubuh. Inflammasomes kemudian mendorong precursor protein kekebalan (cytokine interleukin 1-β) menjadi kimia matang. Pematangan interleukin 1-β dipicu sel kekebalan dendritik untuk bermigrasi ke kelenjar getah bening di paru-paru, di mana mereka memulai serangan ampuh terhadap virus influenza.

"Ini laporan penting yang membuka jalan baru penelitian dan menunjukkan kemungkinan cara baru untuk mengobati dan mencegah infeksi virus," kata Sarkis Mazmanian, mikrobiolog dari California Institute of Technology di Pasadena.

Sejak tahun 1950 mikrobiolog telah mengetahui bahwa mikroba yang menghuni mamalia berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh, ketika mereka menemukan bahwa bakteri hilang pada tikus yang baru lahir menghambat pengembangan system kekebalan tubuh secara normal.

Dalam dekade terakhir, penelitian difokuskan pada bagaimana bakteri mengatur jalur relevan kekebalan dengan kesehatan usus host di mana sebagian besar tubuh kira-kira 100 trilyun 'commensal' (tidak berbahaya bahkan bermanfaat) bakteri. Sebagai contoh, ketidakseimbangan proporsi tertentu bakteri usus berbahaya dan bakteri menguntungkan tampaknya lebih mengaktifkan sel-sel radang, mungkin memicu gangguan inflamasi usus.

Sejumlah laporan rinci dalam lima tahun terakhir telah mengisyaratkan bahwa interaksi manfaat mikroba tidak hanya di usus, tetapi studi Iwasaki menjadi yang pertama untuk mengetahui bagaimana memerangi infeksi bakteri di paru-paru.

"Penelitian ini memberikan kontribusi literatur yang menunjukkan bahwa sinyal bakteri komensal dapat berdampak pada sel-sel kekebalan pada beberapa jaringan. Jika antibiotik tertentu berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk manajemen respon terhadap infeksi virus. Pola makan kita akan mempengaruhi kemampuan kita melawan virus dengan mempengaruhi komposisi bakteri komensal," kata David Artis, imunolog dari University of Pennsylvania di Philadelphia.

Tapi Iwasaki memperingatkan bahwa "kita belum cukup tahu tentang bakteri untuk membuat rekomendasi kesehatan." Timnya belum mengidentifikasi bakteri yang bertanggung jawab atas respon kekebalan, meskipun tersangka disebabkan oleh spesies Lactobacillus yang berada di usus. Setelah antibiotik, populasi bakteri ini secara bermakna berkurang dalam usus tikus, tetapi tidak dalam rongga hidung.

"Pertanyaannya adalah apakah bakteri sengaja menyebabkan proses ini untuk melindungi host dari infeksi flu atau inflammasome tidak secara khusus diaktifkan oleh bakteri, dan salah satu konsekuensi dari aktivasi inflammasome kebetulan menjadi penanggulangan flu?" kata Mazmanian.

"Meskipun begitu menjadi jelas bahwa sistem kekebalan tubuh kita telah berevolusi untuk bertindak seperti sebuah antarmuka untuk mikroorganisme dalam mengirim sinyal ke tubuh kita," kata Mazmanian.
Microbiota regulates immune defense against respiratory tract influenza A virus infection

Penulis :

Takeshi Ichinohe1,2
Iris K. Pang1
Yosuke Kumamoto1
David R. Peaper3
John H. Ho1
Thomas S. Murray3,4
Akiko Iwasaki1

Afiliasi :
  1. Department of Immunobiology, Department of Pediatrics, Laboratory Medicine, Yale University School of Medicine, New Haven, CT 06520
  2. Department of Virology, Faculty of Medicine, Kyushu University, Fukuoka 812-8582, Japan
  3. Laboratory Medicine, Yale University School of Medicine, New Haven, CT 06520
  4. Department of Pediatrics, Laboratory Medicine, Yale University School of Medicine, New Haven, CT 06520
Penerbit : PNAS, March 14, 2011

Download dan Akses : DOI:10.1073/pnas.1019378108
Akiko Iwasaki http://info.med.yale.edu/immuno/iwasaki/
Sarkis Mazmanian http://biology.caltech.edu/Members/Mazmanian
David Artis http://www.med.upenn.edu/micro/faculty/artis.html

Artikel Lainnya:

No comments:

Post a Comment